SOCIAL MEDIA

Sunday, July 22, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #15

Pada Hari ke-15 ini, saya akan membuat Perencanaan Keuangan yang ideal menurut hemat saya. Untuk saat ini belum bisa saya jalankan karena keuangan belum stabil mengingat prioritas saya saat ini, adalah membeli sebuah rumah.

Hal yang paling utama dilakukan adalah mengatur pengeluaran rutin dengan seefektif mungkin, nah hal ini yang belum bisa saya disiplinkan, karena pasti pengeluaran yang tidak rutin menjadi pengeluaran rutin saya karena tergoda untuk berbelanja, apalagi pernak-pernik lucu.

Alokasi Perencaan Keuangan yang ideal menurut saya adalah, yang akan saya gunakan sendiri :

  1. Pengeluaran Rutin = (Terdiri dari, biaya Day Care Adik, Bayar Listrik, dan juga gaji pembantu, transport kantor dan biaya makan dikantor).
  2. Selanjutnya, saya akan mengalokasikan dana yang cukup besar untuk Infaq, dan sedekah serta zakat penghasilan saya selama 1 bln. (biasanya bisa untuk, wakaf, Sedekah Jumat, dan saya sangat suka Sedekah di hari Jum’at) Kenapa alokasi dana Sedekah dan infaq saya prioritaskan, karena sejak mengenal RIBA, saya sudah tidak ikut Asuransi kesehatan, pendidikan, mobil dll, jadi saya lebih ingin pasrah kepada ALLAH SWT melalui banyak2 bersedekah, semoga ALLAH selalu menjauhkan keluarga kami dari penyakit, mara bahaya, dll.
  3. Kemudian, saya akan Alokasikan dana sekian Persen untuk tabungan, biasanya sebesar 10%
  4. Selanjutnya Investasi jangka panjang untuk pendidikan anak, melalui Investasi Emas, cicil beli emas, seperti tiap bulan membeli 5-10 gr emas, tergantung dananya, dilakukan rutin
  5. Cicilan Zakat Mal Investasi saya selama Setahun, karena Haulnya 1 tahun.
  6. Sisianya bisa untuk pos hiburan.
Pengeluaran ideal adalah, hanya membeli apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan, dan juga, jika kita ingin sesuatu sebaiknya menabung secara perlahan jadi tidak menggangu pos-pos yang lain, begitu juga dengan pos hiburan,. Jika ingin berlibur sebaiknya dicicil tiap bulan.  Sehingga pengeluaran kita akan stabil dan memiliki simpanan jika dibutuhkan dana darurat sewaktu-waktu.   



#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Saturday, July 21, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #14

Hari ke-14 ini, saya mau sedikit sharing gimana caranya dapet passive income, bagian dari merencanakan kercerdasan finansial. Buat saya yang mantan designer grafis, kenapa disebut mantan? Karena saya memang mau beralih fungsi untuk menjadi hand lettering artis. Atau seni menulis indah.

Step yang dilakukan :
  1. Belajar online, kalo ga ada waktu, bisa belajar online seperti di Skillshare.com, creativebug.com, creativelive.com, dan lain sebagainya, kalo rekomendasi saya sih berlangganan tiap bulan atau tahunan di skillshare.com juga bisa dapet banyak keahlian jika konsisten.
  2. Belajar offline, bisa lewat workshop-workshop yang bertebaran, seperti maubelajar apa. Atau workshop yang diadakan secara personal oleh pengajarnya.
  3. KONSISTEN, nah kalo sudah belajar baik offline atau online, tinggal konsisten dan terus menerapkan ilmu yang dipunya. Biar skillnya makin terasah.
  4. Mulai buka-buka peluang usaha, bisa dari temen terdekat, atau melalui toko online, seperti IG, Tokopedia, Shopee. Dll
  5. Sering buka lapak atau ikutan pameran offline.
  6. Terus berinovasi, dan semangat. 

#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Friday, July 20, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #13

Nah lanjutan dari hari ke-13, kali ini saya belajar menahan nafsu dan juga tentunya belajar hemat. Saya mau sharing, mengatur perencaan keuangan untuk New born terutama buat ibu bekerja. Berikut ini cara hemat saya ya.

Peralatan tempur untuk Newborn usia 0-6 bln buat ibu bekerja adalah :

* Source Spectra Id 

  1. Pompa Asi, Ini wajib buat Working Mom, jika ingin tetap memberikan asi eklusif untuk si buah hati. Kebetulan saya memakai merk, Spectra S1, dengan pertimbangan sebagai berikut :
·    Harganya cukup mahal saat itu, tapi pompa Spectra ini, merupakan pompa asi dengan kategori Hospital Gradem dimana pompa asi yang aman namun juga portable.
·        Seperti Handphone, jika habis batre baru dicolok, alias Rechargeable
·       Bisa duble pumping, dan bentuk dan beratnya seperti rice cooker mini.
·   Pertimbangan saya saat itu, saya ingin pompa asi yang aman dan tentunya awet sehingga bisa diturunkan untuk adiknya kelak.
*Source Medela Website 
2.   Cooler Bag, ini penting banget untuk menyimpan Asi Perah yang kita pumping dikantor, kebetulan saya tidak beli saat jaman kakak, karena dapat pinjaman dari kakak saya, saya pake merk Medela, dan terbukti ampuh. serta tahan lama untuk menyimpan ASIP saya.





*Source Bka Id


3. Botol asi atau plastik asi, digunakan untuk menyimpan ASIP yang sudah diperah.     Saat itu saya pake botol merk BKA, atau pake plastik ASIP Natur, plastik asi banyak tipenya, tapi saya pilih yang tipe murah saja, yg penting tetap aman untuk bayi.


                                   *Source Bebe Au Lait

4. Apron menyusui (iNi optional) bisa disiapkan atau tidak sesuai dengan kebutuhan.

5. Booster asi jika dirasakan perlu. (biasanya multivitamin, saya pakai ini saat kakak usia 1th keatas, krn produksi asi semakin berkurang)


6. Sisanya adalah semangat meng-ASI-hi untuk terus BERJUANG karena tanpa semangat, keras hati, dan juga gigih, proses asi 2th buat ibu bekerja adalah proses yang panjang, melelahkan, dan juga capek. Bayangkan saya memompa asi bisa 2-4x dikantor dengan durasi 2-3 jam sekali. Jujur proses yang melelahkan terutama ketika produksi asi sudah sangat menurun, biasanya rentang usia 1th keatas.

Dengan memberikan Asi, kita memberikan nutrisi yang terbaik dan tentu saja, mengirit untuk beli susu formula (bagian dari kecerdasan, perencaan keuangan) :D, Sudah irit tentunya lebih baik dari susu formula terbaik sekalipun, karena dalam asi semua yang terbaik sudah menyatu dan gratis tanpa membeli, diperlukan kegigihan seorang ibu untuk terus berjuang memberikan yang terbaik, semangat


#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Thursday, July 19, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #12


*Maafkan penampakan kaki si Ayah :D

Pada hari ke-12 ini, saya ingin mempraktekan kecerdasan perencaan keuangan dan juga menahan nafsu atau keinginan berbelanja. :D

Kebetulan beberapa bulan lagi, saya akan menyambut kelahiran anak ke-2 kami, bayi yang unyu-unyu tersebut tentu menyenangkan jika didukung dengan peralatan atau perlengkapan bayi yang baru yang tentu saja sama imutnya dengan new born.

Jadilah saya mulai menyusun list perlengkapan bayi untuk dibeli, sudah sangat exciting karena kebetulan baju bekas kakaknya, sebagian besar sudah dihibahkan kepada saudara-saudara, berarti ada alasan tersendiri untuk membeli baju bayi baru berserta perlengkapannya.

Rencana pembelian baju bayi dan perlengkapannya, baru akan saya lakukan ketika sudah menginjak 8 bulan atau jalan 9 bulan, alasannya, biar tidak terlalu menunda pencucian baju serta pernak-perniknya.

Setelah menyusun list, macam-macam barang, saya iseng wa mama saya, hanya untuk sekedar membicarakan perlengkapan bayi yang ingin saya beli, ternyata oh ternyata, mama saya melarang pemborosan pembelian baju bayi saya, karena banyak baju bayi bekas, kakak saya dan juga anak saya yg masih bisa dimanfaatkan yang ada dirumah mama. Hiks. Gagal sudah keinginan saya untuk belanja produk bayi-bayi nan unyu yang sudah saya impikan dan inginkan.

Ternyata sebaiknya, saya harus lebih memikirkan penghematan sesuai dengan kebutuhan dibandingkan dengan keinginan untuk memiliki baju dan perlengkapan bayi baru, karena bayi cepat sekali tumbuh besar dan baju baru pun hanya akan dipakai dalam jangka waktu pendek, jadi tidak ada salahnya memakai baju bayi bekas yang masih layak pakai dan bersih.

Padahal saya sudah belajar tentang mengatur perencanaan keuangan, tapi ketika dihadapkan dengan pilihan belanja baju baru, perencanaan keuangan yang say atur jadi mabur, alias Cuma tertulis diatas kertas, saya lebih dikuatkan dengan nafsu untuk membeli baju baru daripada memanfaatkan barang yang ada dalam rangka penghematan dan juga pemubaziran.

Alhasil saya hanya membeli baju yang sekiranya tidak ada, sisanya pake baju bekas kakak atau bekas anak kakak saya, kalo untuk MPASI dan lain-lain, saya memang tidak berencana untuk membeli, karena bisa pake punya kakaknya yg masih bagus, begitu juga dengan pompa asi, pake bekas kakaknya yg 5 tahun kurang menjadi andalan saya meng-ASI-hi kakak selama 2 th.



#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Wednesday, July 18, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #11

Kali ini, saya akan berbagi pengaturan finansial Planner pasca hijrah dari Riba, keluarga kecil kami sempat mencicipi pahitnya riba, yaitu, Kredit KPR, Asuransi Kesehatan Ayah dan Kakak, Asuransi All rise Mobil ayah, dan Investansi Reksadana saya sendiri. Semua ternyata mengandung RIBA, baru terbuka pikirannya 2th belakangan, dan alhamdulilah kami sudah bisa dibilang bersih sama Riba dan semoga juga dari debu-debu Riba, Aamiin YRA. Alhamdulilah sekali saya batal menjadi CFP dan Allah kasih saya jalan yang lain. Semua pasti ada hikmahnya.
Pengaturan keuangan saya, sejujurnya masih ambrulradul alias sesukanya, mungkin karena saya masih bekerja, gak punya tanggungan hutang, dan anak juga masih 1, kadang meski dompet tipis, tetap aja gatel mau belanja, karena bentar lagi gajian, haiz, lain cerita mungkin jika sudah resign nanti.

Jadi hal yang pertama saya sisihkan adalah saat menerima gaji tiap awal bulan.
  1. Tanggungan saya saat ini adalah, Membayar Biaya Day care Anak ke-2, listrik, dan juga gaji pembantu, serta pengeluaran transport ke kantor dan makan serta juga pribadi.
  2. Alokasi dananya berarti :
·         Pengeluaran Rutin = 37 %
·         Infak, sedekah = 17 %
·         Tabungan = 43%
·         Sisa = 3%

  1. Pengeluaran tersebut berdasarkan Gaji dan Tujangan Pokok saya ( tidak gabung dengan suami), pendapatan lain diluar itu tidak saya masukan sebagai pendapatan tetap, tapi hanya temporary saja.
  2. Kenapa saya tidak memilih investasi, karena saat ini saya sedang mengumpulkan uang untuk membeli rumah, jadi investasi yang paling mungkin lepas dari RIBA adalah investasi emas. Hanya saja tidak saya lakukan, mengingat saya lebih membutuhkan uang cash untuk pembelian rumah.
  3. Saya tidak mempunya dana darurat, karena point No. 4 diatas, dan juga dana pos hiburan karena semua penghasilan uangnya disimpan dalam tabungan.
  4. Perencanaan keuangan diatas jauh belum sempurna, karena masih terkendala rencana pembelian rumah.
  5. Perencanaan keuangan yang efektif adalah yang mempunyai pos-pos tertentu yang telah dipaparkan sebelumnya. 


#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Tuesday, July 17, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #10



Kali ini mau menulis hari pertama masuk sekaolah, dan mengajarkan kakak tentang bagaimana berdoa memohon rejeki kepada Allah.
Ketika diluar sana booming posting sana sini tentang hari pertama sekolah anak, saya malas melakukan hal yang sama. Bukan karena apa-apa karena aliran anti mainstream.
Baiklah kali ini saya akan posting, hari pertama kakak sekolah, ada kaingin saya untuk antar kakak ke sekolah, bukan karena dia yang request, tapi karena kesadaran saya, saya ibu yang bekerja diranah publik, tak punya banyak waktu untuk anak saya, semoga Allah ampunkan saya yang tidak menjaga titipan-nYA dengan sebaik-baiknya, dan semoga Allah izinkan dan permudah langkah saya untuk resign.
Saya perhatikan, tiap saya antar sekolah, kakak akan menjadi 2x manja, dikit-dikit diakan menangis atau mewek jika tidak melihat saya didekatnya, saya sudah berusaha menyakinkan dia untuk percaya diri, bahwa saya ada didekatnya, meskipun dia tidak melihat, tapi tetap saja dia mesti melihat saya, untuk membuat hatinya tenang, ada kejadian yang membekas buat saya, sederhana tapi sungguh menyentuh.

Ketika saya mengantarkannya kekelas, bu guru mengizinkan kami orang tua untuk menemani anak, dibelakang kelas, dengan syarat hanya selama 1 mnggu, kakak bilang pada saya, bunda, sini duduk dekat kakak, saya tidak mau karena kalo saya lakukan itu, itu akan membuat kakak terus merasa nyaman dan takut, jadilah saya berdiri diluar kelas, dia menengok lagi, “bunda, gak capek berdiri.” Sahutnya lagi, “gak papa kakak, bunda berdiri aja.” Jawab saya, entah kenapa tiba dia berdiri, dan mengambilkan saya bangku, “bun, duduk sini saja, nti bun capek.” Tiba-tiba saya langsung trenyuh, dia tahu saya sedang hamil besar, dan perut saya kadang tegang, nyeri, dan tak karuan, dan kakak memahami setuasi itu, saya merasa, meskipun kadang anak saya, menyebalkan, dia blm mau ditinggal seperti teman-temanya, dia cengeng dan mudah menangis. Tapi dia juga tahu memahami saya.

Sepulangnya dari perjalanan sekolah, dia bertanya pada saya, “bun, gak marah sama kakak kan, dlu bun marah, waktu kakak gak mau naik panggung.” Tanyanya sambil jalan, saya sedih jika ingat itu, meski sudah belajar parenting, saya suka susah menahan amarah, saya merasa sia-sia sudah izin kantor tapi tidak maxsimal, hiks.
Dengan senyum, saya bilang,”Kenapa harus marah, kalo sudah waktunya, kakak pasti mau naik panggung.” Ada senyum sumringah di bibirnya, saya menyadari saya ibu yang jauh dari kata sempurna, sepanjang hari saya, menemani kakak main dan belajar tidak marah dengan sikapnya yang agak nyebelin :D

Lalu sepulangnya dari sekolah, saya sangat ini sekali toys figure, gambar ice cream, dia tahu itu, saya bilang padanya, “kapan ya bunda bisa beli, lucu bgt.” Bunda sahutnya, “bun berdoa sama Allah aja, nanti juga dikasih rejeki buat beli ya bun. “ hati saya terenyuh, dia sedikit banyak menerima apa yang saya ajarkan mengenai cerdas financial ini, awal-awal yang saya ajarkan adalah, ingat Allah dlu, ingat Allah, Allah akan ingat kita, minta Allah, Allah akan beri kita. Terima kasih kakak, sudah ingatkan bunda. :D

                                                              * toys Figure yg terus kebayang, :)

#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Monday, July 16, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #9




Hari ke-9 ini, saya ingin sedikit menceritakan tentang tantangan bunsay kecerdasan financial, sejak mengenal kelas bunsay, saya mulai sedikit-demi sedikit mempelajari ttg parenting, dulu saya pikir sebelum punya anak, cara mendidik anak ya sudah begitu saja, sama seperti cara mendidik mama saya ke saya, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya informasi, ternyata hal tersebut sudah tidak relevan dengan saat saya mempunyai anak.

Menjadi orang tua itu hal yang sulit, dan sangat sulit, kalau ingin mendidik anak hebat, sudah pasti sebagai orang tua kita perlu menjadi contoh yang hebat dan mau selalu belajar, karena orang tua ada contoh real model anak dalam melihat sosok dewasa yang ditirunya.
Sulit sekali saya rasakan sebagai orang tua, apalagi jika saya bekerja alias working mam, berulang kali saya berpikir untuk resign, agar bisa fokus menjaga anak saya. Mendidiknya, tapi ada saja cobaanya, saya ingin memantapkan diri dengan segera agar cita-cita saya segera terealisasi, menjadi ibu hebat menurut saya adalah, ibu yang selalu ada dan bisa menjadi sandaran anak. Hal itu akan sangat mungkin terjadi kalo saya tidak bekerja.

Berhubungan dengan materi bunsay, jadi sejak tantangan hari pertama, saya sudah mengajarkan kakak tentang value uang itu sendiri, meskipun dia belum paham, betul, tapi intinya saya menanamkan dokrin bahwa Allah itu maha pemberi. Rejeki atau uang yang saya punya bukan semata-mata adalah uang milik saya, tapi semua adalah pemberian dari Allah SWT. Satu konsep tersebut yang saya tanamkan dalam benak dan pikiran kakak. Sehingga setiap saat selalu coba saya praktekan. Jadi ceritanya dia pingin banget jalan-jalan, entah kemana, kalo weekend dia suka bosan gak kemana-mana, jadi sekalian saya belanja saya ajak kakak, kemudian terjadilah percakapan ini :

      Kakak : Bun, kakak lapar!
       Saya : Yaudah kak kita makan Bakmi aja ya
       Kakak : Iya bun,
       Saya, menyuruh ayahnya untuk memesan 3 porsi bakmi buat kami, lalu kakak  mulai tidak bisa diam, saya mulai mempraktekan, ilmu financial.
       Saya : kakak, nanti kalo bayar Bakminya, kakak yang bayarnya, biar kakak paham.
       Kakak : Iya bunda, tapi nti bunda kasih tahunya ya, ok sahut saya.
        Setelah pesanan jadi, kakak yang bayar, dan dia minta untuk foto didepan kasir, 😊 sehabis itu, saya ingin sekali makan es cream, tidak sengaja kami menemukan es cream favorit di giant, jadilah saya ingin beli, lagi-lagi saya praktekin saja ilmu financial, bahwa kita mesti berhemat atau menghargai uang.
         Saya : Kak. Bunda mau makan es cream, kakak, mau gak?
          Kakak : Mau banget bunda. Sahutnya senang
          Saya : Tapi, karena uang bun terbatas, kita beli es creamnya 1 aja ya makan   berdua, sahut saya lagi.
          Kakak : Yah kenapa bunda, sahutnya kecewa.
          Saya : Iya, nanti kalo bunda ada rejeki lagi dari Allah, kita beli lagi ya kak.
           Kakak : Sambil berpikir keras, “Iya deh bunda, tapi nanti aku dibelii sendiri ya, nti kalo Allah kasih bunda rejeki”.
           Saya : Iya kakak, doaiin bunda ya, biar rejeki bunda banyak, terus kita makan es cream lagi.
            Kakak : Iya, bunda. Sahutnya sambil sumringah.

            Akhirnya misi berhasil, dia mulai memahami,. Bahwa tiap rejeki itu pemberian Allah, kadang memang suka gak bisa diterima, kalo kakak lagi moody minta beliin boneka atau mainan, tapi sejauh ini, saya selalu berusaha menanamkan pikiran, bahwa rejeki itu dari ALLAH SWT, jadi kakak tidak bisa selalu memaksakan kehendaknya, kalo mengingankan sesuatu kalau saya tidak bisa mengabulkan keinginnya.




#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Sunday, July 15, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #8

Kali ini melanjutkan pelajaran financial planner yang pernah saya dapat dulu, intinya adalah pengelolaan atau pengaturan keuangan secara effisien agar nilai atau value aset yang kita punya nilainya semakin bertambah atau tetap meski inflasi menghadang.

Waktu pertama kali mempelajari Financial planner ini, saya merasa begitu banyak uang yang telah saya buang dengan sia-sia, dari mengoleksi komik, mengoleksi mainan miniature, buku-buku, stampel, alat-alat jahit, pernak-pernik menjahit, dan lain sebagainya yang kalo dirunut-runut mungkin saya sudah menghabiskan ratusan juta untuk memenuhi hasrat dan nafsu saya, jika menengok kebelakang, rasanya sangat menyesal, tapi rasanya itu adalah bagian dari masa lalu saya yang merupakan puncak gunung es, sejak kecil jika ingin sesuatu, orangtua saya mengajarkan saya untuk menabung jika ingin memiliki sesuatu, entah barang atau apapun, sehingga sejak saat itu, saya seperti menahan hasrat untuk membeli sesuatu yang saya sukai.

Saya bekerja sejak usia 18th. Sejak mempunyai penghasilan sendiri, semua hal yang saya sukai dan mampu saya beli, gaya hidup yang sangat konsumtif, hiks.
Sampai kira-kira saya terus lakukan sampai 7th bekerja, banyak sekali koleksi barang-barang yang sebenarnya tidak saya butuhkan, tapi bernafsu saya beli. Akhirnya tabungan saya jarang bertambah, hiks.

Kemudian sampai saat saya menikah, hal itu terus berlanjut, koleksi kain, alat-alat jahit, pernak-pernik jahit, banyak sekali cita-cita yang ingin saya lakukan tapi tidak pernah kesampean, saya ingin menjadi designer, tapi tidak kesampean, pingin jadi hijab designer juga tidak, haiz.

Setelah itu saya agak sadar sedikit, kemudian saya memfokuskan diri untuk membuka peluang baru menjadi Graphic designer, alat-alat yang tidak menunjang saya simpan digudang termasuk mesin jahit dan lain-lain.

Saya investasikan uang saya untuk membeli drawing tablet, light tracer, dan laptop. Tapi 1 th belakangan saya baru menyadari, bahwa menggambar adalah hal yang sebaiknya dihindari dalam agama saya, hiks, lagi-lagi saya gagal dan mundur.

Nah mulai tahun ini, saya baru menentukan passion saya yang baru belajar lettering, dan alhamdulilah tidak dilarang dalam agama saya asalkan tidak ada gambar mahkluk hiodupnya.  Sekarang saya fokus memepelajari passion saya.

Jalan yang panjang untuk belajar mengatur keuangan saya, hiks.

Berikut ini ringkasan cara-cara mengatur keuangan financial agar efektif dan efisien.

  1. Punya simpanan uang cash/tunai dalam bentuk tabungan yang dapat dipergunakan sewaktu-waktu untuk keperluan mendadak yang  diluar dari pengeluaran rutin, idealnya 12x pengeluaran perbulan, atau simpanan pengeluaran 1 tahun, kalau pengeluaran kita katakanlah Rp. 5.000.000,-/per bulan, berarti dana yang kita butuhkan untuk dijadikan simpanan adalah Rp. 60.000.000,-
  2. Hutang yang sehat adalah tidak melebihi dari 30% dari penghasilan selama 1 bulan, katakanlah, penghasilan kita Rp. 8.000.000,-/per bulan, cicilan hutang (biasanya KPR ) maxsimal adalah Rp. 2.400.000,-
  3. Memiliki dana Pendidikan anak, melalui investasi, (seperti Asuransi Pendidikan, tabungan pendidikan, dll)
  4. Memiliki Tabungan hari tua, untuk bekal ketika kita sudah tidak bekerja. Melalui Investasi (bisa InVestasi Asuransi, Emas, Property, Bisnis, etc)
  5. Memiliki Asuransi Kesehatan, atau asuransi Kematian untuk kepala keluarga.
  6. Jangan berhutang untuk gaya hidup konsumtif, berhutang hanya untuk KPR.
  7. Sebar aset kita, dalam berbagai bentuk, bisa Property, emas, investasi saham atau reksadana, bisnis dll.


*INI semua adalah catatatan financial planner sebelum saya hijrah, after hijrah akan saya perbaiki, saya tidak merekomendasikan untuk berhutang terutama dalam bentuk apapun yang mengandung RIBA Didalamnya sekalipun itu kredit KPR untuk kepemilikan rumah, jika kurang mampu membeli rumah secara cash, pikir2 beribu kali sebelumnya membeli secara KPR apalagi mengandung RIBA., so jangan remehkan dosa riba bun.  *



#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Saturday, July 14, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #7

Hari ini, saya ingin mengulas sedikit tentang financial planner, versi saya sebelum hijrah, dimana awal-awal saat menikah dulu, saya pernah membaca buku tentang mengatur keuangan secara cerdas dan kebetulan saya ngefans berat dengan penulisnya, sempat mengikuti kelas dasar Certificate Financial Plannernya.  Semua yang berhubungan dengan perancana keuangan, pasti saya ikuti termasuk, belajar mengelola asset dan portfolio keuanga, ada yang salah saat itu, tentu tidak saya menyadari bahwa hal itu sangat penting untuk mempertahankan asset atau harta yang kita punya. Saya terus berkecimpung dalam hal itu kira-kira sampe 2-3 tahun pernikahan.

Seiring berjalannya waktu, saya merasa Lelah, dan belum paham dengan apa yang saya lakukan berkaitan dengan RIBA, ya ada unsur RIBA disana, yang tidak saya sadari, yang saya sadari saat itu, gaya hidup dan tuntutan kehidupan kami sangat berat, banyak sekali pengeluaran yang entah datangnya bukan dari keluarga kecil kami tapi dari keluarga besar. Mata hati saya belum paham apa itu RIBA, sebatas ilmu saya yang cetek ini, RIBA hanya sejauh seorang renternir meminjamkan uang dengan tambahan biaya alias bunga. Pikiran yang sangat cetek saat itu.

Jadi saya akan membagikan apa yang pernah saya pelajari sebelum masa-masa saya mengenal apa itu RIBA, hampir 2th silam.

Inti dari mempelajari financial planner adalah mengelola asset, agar terus bertambah dan nilainya terjaga dengan cara mengatur keuangan kita, hal itu bisa dimulai dari

  1. Atur rencana pengeluaran sebulan, dari Gaji + Penghasilan , pengeluaran rutin berupa : (Bayar listrik, air, belanja, sekolah, transportasi , dll) diluar dari pengeluaran rutin jangan direncanakan dari gaji
  2. Alokasi ideal untuk pengaturan keuangan *dari Perancana keuangan :
·         Zakat, infak, sedekah = 5%
·         Dana Darurat, premi asuransi = 10%
·         Biaya HIdup rutin = 50%
·         Tabungan = 10%
·         Investasi jangka Panjang  = 15%
·         Pos HIburan = 10%
  1. Cicilan perbulan tidak lebih dari 30%
  2. Batasi penggunaan internet banking dll, gunakan saja uang tunai sesuai dengan pos-pos yang sudah diatur sebelumnya
  3. Alokasikan pos pengeluaran dengan membagi pertabunga, seperti rekening untuk tabungan, biaya hidup dan juga liburan/hiburan.
Kurang lebih itu intisari dari yang sempat saya terapkan, semasa jaman belum hijrah, kenapa saya bilang belum hijrah dari riba, karena masih ada unsur ribanya, seperti : ASuransi, INvestasi yang masih RIbawi, Cicilan KPR bagian dari RIba, dsb, besok akan saya coba ulas pengaturan keuangan pasca Hijrah dari RIBAWI.



#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Friday, July 13, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #6




Pada hari-6 ini, saya ingin mengajarkan kakak, nilai value dari makanan, dan bagaimana kita harus bersyukur dengan segala keterbatasan yang kita punya dengan rasa syukur.
Jadi kali ini, kakak lagi seneng banget, sama kuenya “The Harvest” tahu donk, kuenya mihil-mihil banget, 1 slice per potong cakenya rata-rata dihargai Rp. 40.000,- keatas, jangan ditanya rasanya, kalo kata ayah dan si kakak, “enak banget” dan buat saya biasa aja tuh, sesuap dua suap paling makanya, karena saya kurang suka makanan manis cake, kecuali mungkin cake coklat dari dapur coklat, dan cake dari the Harvest belum ada yang cocok buat saya, selain harga dan juga rasanya. Bersyukurlah saya gak perlu keluar duat buat beli cakenya.

Karena kakak lagi suka cake-nya, tiap pulang kerja dia suka request, sekali-dua kali ok lah kami belikan, tapi kalo tiap hari, aduh lumayan banget, bahkan 1 cake yang kami beli bisa buat uang makan saya sehari dikantor. Jadilah saya ajarkan kakak sekalian dengan tema kelas bunsay kali ini, alhamdulilah kakak lumayan paham, kalo harga 1 cake harvest yg kami belikan itu, Muahal bingits. :D

Jadi untuk pengenalan saya coba jelaskan pada kakak, berapa sih harga kue yang tiap hari dia request itu, saya bilang harganya Rp. 50.000,- alias uang dengan warna biru, dan simple aja dia bilang, kok mahal ya bunda, ya iyalah kak, kue itu mahal pulak, apalagi kalo dibeli tiap hari, heheh, sahut saya sambil tersenyum getir, otomatis, tiap dia minta request yang aneh-aneh, saya akan jelaskan berapa value uangnya. Kadang dia paham, kadang juga gak, banyakan gak ya kalo sudah minta boneka. Biarlah nak jadi pembelajaran buat kakak untuk lebih menghargai uang itu sendiri, pergunakanlah dengan bijak, tidak sebijak saya hiks.


#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Thursday, July 12, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #5





Kali ini saya ingin mengajari value uang, sama atau sebanding, sejauh ini kakak masih belum paham, value dari uang itu sendiri, meski kadang-kadang dia ingat dan paham, saya rencana tidak ingin menekankan pada kakak, hanya mau mengarkan perkenalan. Jadi pada hari ke-5 saya ajarkan equivalen nilai Rp. 10.000,- dibandingkan dengan uang Rp. 2.000,- .

Sejauh pengamatan saya, kakak masih agak bingung, karena lebih tepatnya itu mengajarkan perkalian, dan untuk bilangan tambah dan kurang, dia masih belum paham. :D mungkin pada minggu-minggu ke-2 saya akan lebih mengulas cerdas finansial versi saya, yang saya dapatkan dari kelas Certificate Financial Planner. Dan versi saya setelah mengenal dunia PerRIBA-an, semoga bisa menjadi masukan. 


#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Wednesday, July 11, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #4




Mengulang Pengenalan Value pada Hari Pertama, kali ini saya mengajarkan kakak bagaimana cara membaca nilai uang, bukan hal yang mudah untuk diajarkan, karena tidak bisa sekali dua kali, kakak cepet banget lupanya.

Jadi untuk pengenalan kali kedua ini, saya ajarkan membaca nilai uang. Rp. 2000,- Rp.5000,- dan Rp. 10.000,- kakak sangat exciting banget, biasanya kita praktek materi bunsay adalah saat menjelang tidur, sambil menunggu ayah pulang kerja. Permainanaya memang hanya sebentar tidak sampe ½ jam, soalnya kalo lama-lama kakak suka bosan, jadinya. Kita belajar mengulan-ngulang nilai uang dengan bantuan uang mainan.

Cara permainannya, saya sebutkan nilai uang mainan berkali-kali, sampe kakak paham, beberapa kali dia akan mengatakan, “Bunda aku gak ngerti, gak paham.” Kalo sudah begitu saya akan berhenti, dan coba menjelaskan ulang.

Beberapa kali dijelaskan, kakak kadang paham, kadang juga lupa lagi, dan sangat alamiah, saya tidak mau menekankan. Biarkan saja. Inti dari permainan adalah mengajarkan dia mengenal uang tujuan pendek, tujuan panjangnya tentu mengajarkan kakak mengelola keuangan dengan cerdas.

Ngomong-ngomong tentang mengelola keuangan secara cerdas, sejak awal menikah, saya sudah membaca banyak sekali tentang investasi, bagaimana kita mesti berinvestasi, dkk, bahkan dengan ngototnya saya sampe maksa mengajak suami ikut merencanakan masa depan keuangan kami melalui Certificate Financial Planner, awal pernikahan kami, penghasilan yang saya hasilkan diperuntukan khusus investasi untuk masa depan kami, kami setorkan sekian juta untuk pendidikan anak, dana pensiun, kesehatan, dkk dan tidak lupa asuransi kesehatan jiwa suami, jika sewaktu-waktu hal-hal yang tidak kami inginkan terjadi.

Dan semua hal berhubungan dengan menjaga harta kami agar nilainya tetap saya pelajari, waktu berlalu, setahun, dua, tahun, dan sampai pada tahun ke-6 pernikahan kami. Saya belum menyadari apa yang  lakukan, investasi yang kami tanam, semua mengandung unsur RIBA, nikamt dan cobaan Allah begitu dekat, hingga kami tidak menyadari apakah itu nikmat atau cobaan bahwa kami bermain-main dengan riba. Padahal Allah jelas-jelas memerangi riba
Renungan Bahaya Riba dari Surat Al-Baqarah ayat 276
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)
Selama 13th bekerja, saya tidak memiliki rumah, kendaraan, setiap mau membeli rumah, ada saja halangnya, entah dibohongin penjualnya, rumahnya tidak sesuai dengan omongan awal, lokasinya tidak cocok, dll, ada saja yang menjadi halangan saya, bahkan dengan entengnya saya berencana pinjam ratusan juta untuk membeli rumah dengan tipe idaman meski puluhan tahun untuk melunasinya.

Alhamdulilah, keinginan itu tidak pernah benar-benar terwujud, saya baru ,memahami investasi yang kami lakukan ada riba, semua ada unsur riba, “Masya Allah “ butuh waktu 6 tahun kurang untuk menyadari doasa kami, kami takut Allah dan Rasul-NYA perangi kami karena riba. Akhirnya kami tarik semua dana pada investasi kami, menutup semua asuransi, dan belajar untuk tidak tersangkut dengan riba lagi, Insya Allah semoga kami istiqamah, tidak mau mengutang lagi dengan dalil apapun.

Biaya pendidikan anakpun, kami tabung sekedarnya dala bentuk emas, deposito bank kami tutup, kami hanya simpan dalam bentuk tabungan secukupnya untuk biaya hidup tiap bulan, kartu kredit selama tahunan kami tutup semua. Sudah cukup kami mau lepas dengan riba.  Segala bentuk investasi saat ini kami hindari, kami pasrahkan kepada Allah SWT, Allah yang maha kaya, Allah akan cukupkan harta kami cukup untuk hidup. Kami tidak perlu capek menjaga investasi kami , atau bahkan cita-cita saya dulu ingin menjadi CFP sudah tidak saya pedulikan lagi, saya bersyukur Allah selalu menjaga saya, untuk tidak punya rumah, mobil, apalagi dgn cara kredit, uang yang kami miliki nilainya turun setiap tahun karena tergerus inflasi, tapi saya tidak peduli, lebih takut dengan dosa riba yang telah saya perbuat, Ya Allah, ampunkan kami. Aamiin YRA.





#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Tuesday, July 10, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #3




Masih Ingat cerita saya hari sebelumnya, kakak mendapat hadiah tas sekolah baru dari kami, sebagai ganti tas sekolahnya yang sudah jelek karena dicoret-coret sepupunya
Kemarin saat hendak pergi ke kantor, tiba-toba kakak terbangung dipagi hari dan meminta ikut sambil merengek, dia suka banget ke kantor kami, kebetulan kantor saya dan ayahnya sama, sehingga kami selalu berangkat dan pulang bersama jika tidak ada halangan.
Karena kakak merengek dan ngambek minta ikut, jadilah dengan terpaksa saya ajak kakak ke kantor, sebelum pergi saya membuat perjanjian dlu. Dengan kakak agar dia mematuhi peraturan yang saya buat,

  1. Kakak duduk ditengah (kami naik motor ber-3)
  2. Kakak tidak boleh ikut ayah, karena ayahnya super sibuk, sepanjang hari dikantor dia akan bersama saya.
  3. Kakak tidak boleh menganggu orang bekerja, terutama menganggu bos saya (dia akrab dgn bos saya) 😊
  4. Kakak harus makan tepat waktu dan tidur siang.
Dia setuju, dan saya coba konsisten dengan peraturan tersebut. Alhamudilah kaka tertib, dan masih ingat dengan tas pink little pony yang saya belikan hari sebelumnya, karena saking sayangnya dengan benda baru, dia bawa kemana-mana, bahkan tidur dikantor pun dia bawa-bawa, hehe. Disini kakak belajar menghargai pemberian barang orang lain, dan bersyukur dengan rejeki yang diberikan kepadanya.(Value dari kecerdasan finansial)  Alhamdulilah dia tidak rewel dikantor, nonton youtube saja sekenanya saja saat mau pulang, kakak lbh banyak membantu saya mengantar berkas (Pemanfaatan 😊) dan juga dia akan menggambar-gambar jika bosan. Atau bermain tlp dengan rekan kerja saya. Sisanya kakak makan dengan teratur dan tidur siang, menjelang jam pulang kantor kaka sudah bangun dan bersiap untuk pulang, hari yang panjang jika membawa anak, dan pasti saya akan dobel lelah berbagi waktu, tapi disisi lain, saya senang waktu saya full seharian dengan kaka meskipun sambil bekerja. Liburan kakak akan segera berakhir, dan senin depan kakak akan mulai masuk sekolah, sudah tidak bisa ikut ke kantor lg ya kak, lain x jika liburan sekolah lg, 😊

#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial