SOCIAL MEDIA

Monday, July 16, 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini #9




Hari ke-9 ini, saya ingin sedikit menceritakan tentang tantangan bunsay kecerdasan financial, sejak mengenal kelas bunsay, saya mulai sedikit-demi sedikit mempelajari ttg parenting, dulu saya pikir sebelum punya anak, cara mendidik anak ya sudah begitu saja, sama seperti cara mendidik mama saya ke saya, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya informasi, ternyata hal tersebut sudah tidak relevan dengan saat saya mempunyai anak.

Menjadi orang tua itu hal yang sulit, dan sangat sulit, kalau ingin mendidik anak hebat, sudah pasti sebagai orang tua kita perlu menjadi contoh yang hebat dan mau selalu belajar, karena orang tua ada contoh real model anak dalam melihat sosok dewasa yang ditirunya.
Sulit sekali saya rasakan sebagai orang tua, apalagi jika saya bekerja alias working mam, berulang kali saya berpikir untuk resign, agar bisa fokus menjaga anak saya. Mendidiknya, tapi ada saja cobaanya, saya ingin memantapkan diri dengan segera agar cita-cita saya segera terealisasi, menjadi ibu hebat menurut saya adalah, ibu yang selalu ada dan bisa menjadi sandaran anak. Hal itu akan sangat mungkin terjadi kalo saya tidak bekerja.

Berhubungan dengan materi bunsay, jadi sejak tantangan hari pertama, saya sudah mengajarkan kakak tentang value uang itu sendiri, meskipun dia belum paham, betul, tapi intinya saya menanamkan dokrin bahwa Allah itu maha pemberi. Rejeki atau uang yang saya punya bukan semata-mata adalah uang milik saya, tapi semua adalah pemberian dari Allah SWT. Satu konsep tersebut yang saya tanamkan dalam benak dan pikiran kakak. Sehingga setiap saat selalu coba saya praktekan. Jadi ceritanya dia pingin banget jalan-jalan, entah kemana, kalo weekend dia suka bosan gak kemana-mana, jadi sekalian saya belanja saya ajak kakak, kemudian terjadilah percakapan ini :

      Kakak : Bun, kakak lapar!
       Saya : Yaudah kak kita makan Bakmi aja ya
       Kakak : Iya bun,
       Saya, menyuruh ayahnya untuk memesan 3 porsi bakmi buat kami, lalu kakak  mulai tidak bisa diam, saya mulai mempraktekan, ilmu financial.
       Saya : kakak, nanti kalo bayar Bakminya, kakak yang bayarnya, biar kakak paham.
       Kakak : Iya bunda, tapi nti bunda kasih tahunya ya, ok sahut saya.
        Setelah pesanan jadi, kakak yang bayar, dan dia minta untuk foto didepan kasir, 😊 sehabis itu, saya ingin sekali makan es cream, tidak sengaja kami menemukan es cream favorit di giant, jadilah saya ingin beli, lagi-lagi saya praktekin saja ilmu financial, bahwa kita mesti berhemat atau menghargai uang.
         Saya : Kak. Bunda mau makan es cream, kakak, mau gak?
          Kakak : Mau banget bunda. Sahutnya senang
          Saya : Tapi, karena uang bun terbatas, kita beli es creamnya 1 aja ya makan   berdua, sahut saya lagi.
          Kakak : Yah kenapa bunda, sahutnya kecewa.
          Saya : Iya, nanti kalo bunda ada rejeki lagi dari Allah, kita beli lagi ya kak.
           Kakak : Sambil berpikir keras, “Iya deh bunda, tapi nanti aku dibelii sendiri ya, nti kalo Allah kasih bunda rejeki”.
           Saya : Iya kakak, doaiin bunda ya, biar rejeki bunda banyak, terus kita makan es cream lagi.
            Kakak : Iya, bunda. Sahutnya sambil sumringah.

            Akhirnya misi berhasil, dia mulai memahami,. Bahwa tiap rejeki itu pemberian Allah, kadang memang suka gak bisa diterima, kalo kakak lagi moody minta beliin boneka atau mainan, tapi sejauh ini, saya selalu berusaha menanamkan pikiran, bahwa rejeki itu dari ALLAH SWT, jadi kakak tidak bisa selalu memaksakan kehendaknya, kalo mengingankan sesuatu kalau saya tidak bisa mengabulkan keinginnya.




#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

No comments :

Post a Comment