SOCIAL MEDIA

Monday, November 20, 2017

Komunikasi Produktif 15

Hari Sabtu kemarin, kami sekeluarga mengunjungi Mama saya yang tinggal di Jakarta, jadi perjalanan dari Bogor saya langsung pergi ke Priuk, menengok Mama saya. Sepanjang jalan saya mengbrol dengan anak saya sambil sesekali kita bermain bersama.

Si kakak paling senang bermain menggunakan Tong-Tol, dengan menambahkan kata-kata seperti penyihir, dia asik main sendiri dan sesekali saya ikut menimpali. Saya jadi ingat bermain dengan anak, dapat menstimulus otaknya agar semakin berkembang, dan saya jadi ingat permainan hipnoterapi dengan kata-kata. Sehingga saya iseng mencobanya.

Saya, “Kakak kita main yuk.”
Anak saya, “Ayuk bun, main apa.”
Saya,” Bunda pinjem Tong-Tolnya ya, kakak takut sama kecoa ya, sahut iya.”
Anak saya, “Iya ih...kakak takut, geli sama kecoa.”

Saya. “Kalo gitu bunda buang ya rasa takut kakak dengan tongkat ajaib. Kakak ikuti kata-kata bunda ya. Coba kakak tutup mata kakak pelan-pelan. Bayangkan ada kecoa yang mendekat kearah kakak.” Anak saya mulai nampai bergidik, “Kecoa itu berjalan perlahan sambil berjinjit, kemudian bunda berikan kakak kaki ajaib yang tidak takut dengan kecoa itu, dan menendang kecoa itu jauh.” “kakak dengan kekuatan hebat memiliki kaki yang pemberani.”

Anak saya memincingkan kedua matanya, sepertinya iya nampak mengikuti permainan, “kemudian kakak takuti kecoa tersebut dengan kaki kakak, dan kecoa itu lari ketakutan dan keluar melalui pintu.”

“Sekarang kakak sudah tidak takut lagi dengan kecoa, karena kakak memiliki kaki ajaib yang berani dengan kecoa.” “Kemudian, kakak merasa menjadi diri yang baru dan, buka mata, mulai sekarang kakak tidak takut kecoa lagi, karena punya kaki ajaib.” Ucap saya dengan suara bersemangat.
Anak saya membuka kedua matanya, sepertinya ia menikmati energi positif yang telah saya salurkan. Setelah permainan usai, saya semangati anak saya agar dia tidak takut kecoa lagi karena sudah punya kaki ajaib.

#hari15
#tantangan17 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif 14

Weekend kemarin, kebetulan saya mendapat tugas kantor ke luar kota selama 3hr sejak hari jumat, sehingga, komunikasi produktif dilakukan dengan anak melalui telepon. 3 hari sebelum pergi saya sudah coba praktek komunikasi efektif dengan anak saya, mengingat sejak dia pernah saya tinggal pergi ke Jepang selama seminggu, anak saya agak posesif dan sensitif jika mendengar saya akan pergi keluar kota.

Jadi skenarionya, saya minta bantuan suami untuk sama-sama membujuknya, dengan percakapan seperti ini :

Saya, “Kakak, Hari Jum’at. Bun gak pulang ya. Bun mau ke bogor.”
Anak Saya, “Gak boleh, no..no..no.” nada suaranya mulai tidak bersahabat.
Saya, “Kan Cuma semalam, kakak tidur sama ayah.”
Anak saya, “Gak bun, aku masa gak diajak, bunda ke Jepang, aku ditinggal, ke Bogor gak di ajak, ke puncak gak dia ajak juga, bunda mah aku ditinggal terus.”
Saya, menghela napas, “Kan bunda kerja kakak, kakak besok malam, tidur dengan ayah, paginya nanti jemput bunda, kita pergi kerumah nenek.” Sahut saya sambil membujuk.
Anak saya, “Gak mau, kakak ikut bun.”
Suami saya, “Kakak besok pagi sebelum, jemput bun, kita jalan-jalan yuk keliling komplek, sama ayah,. Terus nanti kita jemput bunda naik mobil, kakak duduk dibelakang sendiri ya, kakak kan anak pintar.”
Anak saya masih saja nampak kebingungan, dia seperti sedang berpikir keras, akhirnya dia berjalan mendekati saya, “Yaudah bun, kalo perginya semalam aja, gak papa, nti kakak jemput sama ayah ya.”
Saya tersenyum sambil berkata, “Kakak hebat ya, ok nanti kita kerumah nenek sama-sama.”
Suami saya ikut menimpali, “Iya ya ka, klo bunda mau pergi ke Jepang lagi juga boleh, tapi Cuma 2 hari. “ saya hanya tersenyum kecut. Mahal diongkos kalo Cuma 2 hari, hahaha.

Berkomunikasi dengan anak, ada seninya tersendiri, dan terkadang saya kurang sabaran, terutama dalam menyampaikan maksud tujuan saya dalam berkomunikasi. Semoga dengan adanya kelas Bunsay IIP ini memudahkan saya dalam lebih memahami arah dan cara berkomunikasi yang tepat dan efektif sesuai dengan sasaran yang saya inginkan.

#hari14
#tantangan17 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Friday, November 17, 2017

Komunikasi Produktif 13



Hari ini hari jumat, Subhanallah hari yang berkah dan menjadi favorit saya dari hari-hari yang lain, paling menyenangkan karena esoknya libur. Ditambah hari ini hujan. Menambah suasa menjadi tentram dan nyaman. 

Kemarin, sore saya dan suami bertengkar, kali ini pembahasannya adalah komunikasi produktif dengan pasangan, dia salah paham dengan perkataan yang saya sampaikan lewat WA, kemudian dia langsung merasa tersinggung, dan menelpon saya, menanyakan apa maksud dari perkataan saya lewat WA, hal ini kadang saja bisa terjadi kepada siapa saja, seperti contoh, dalam kasus saya adalah komunikasi yang tidak efektif melalui tulisan.

Jadi suami saya maksudnya menyampaikan maksud A, padahal saya bermaksud hanya sekedar meledeknya, tapi dia tidak memahami maksud dari tujuan saya, yang hanya iseng dan tidak serius. Tidak semua hal perlu dikomentari secara serius. Itu mungkin juga salah saya, karena keisengan saya, jadi salah persepsi. Namun setelah dicroscek, maksud saya adalah A dengan cara yang berbeda. Suami baru menyadarinya. Rasanya memang sulit melukiskan bagaimana seharusnya komunikasi dilakukan secara efektif terutama kepada pasangan. Saya seringkali berkomunikasi tidak efektif. Seperti contoh,. Ketika suami saya bertanya, “Bun, mau pulang bareng ayah gak?” saya spontan akan menjawab “Iya lah.” Dengan intonasi nada bicara yang tinggi. Suami menanggap jawaban saya tidak enak. Dia mau saya menjawab dengan kata yang enak didengar seperti, “Iya yah, bareng pulangnya sama ayah.” Tapi seringkali saya menjawab singkat dan seenaknya. Saya paham komunikasi saya mungkin kurang efektif, tapi terkadang memilih kata untuk pasangan dibandingan untuk anak, jauh lebih sulit untuk menggunakan komunikasi efektif dengan pasangan,. Saya sepertinya harus rajin membaca buku-buku tentang komunikasi yg efektif dengan pasangan agar paham kata-kata apa yang sebaiknya dikatakan.

Semoga kedepannya semakin mudah berkebiasaan berkomunikasi yang efektif sesuai dengan tempat dan lawan bicara, saya akan terus belajar menjadi Istri dan Ibu Profesional, Insya ALLAH. 

#hari13
#tantangan17 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip




Photo by Simon Matzinger on Unsplash

Thursday, November 16, 2017

Komunikasi Produktif 12




YO!!

Tantangan hari ke-12, saya mungkin bukan contoh Ibu yang baik, saya seringkali membuat anak saya menangis, bukan karena saya bertindak kasar atau apa, tapi karena saya suka sekali iseng, saya tidak tahu apakah saya orang yang normal, atau bisa jadi karena sewaktu kecil saya suka sekali dibullying oleh kakak-kakak saya, sehingga saya jadi seperti ini.

Kemarin malam, karena saya menderita Kista pada Rahim, saya mengikuti terapi alternatif, sengat lebah, sehingga sekujur badan saya terasa sakit, dan efeknya saya jadi agak moody dan sensitive. Sehingga ketika anak saya terasa sangat over aktif, rasa ingin membuat dia tidak nyaman, timbul dalam diri saya. “kakak, tadi bunda, habis disengat lebah tahu kak, sakit.” Anak saya dengan mata berbinar, menjawab, “Bun, sakit gak, tanyanya, “ Sakit lah kak, kan bengkak.” “kakak mau disengat.” Seketika dia menjawab, “Enggaklah bun.” Anak saya tahu sakitnya disengat lebah, karena sewaktu pertama kali sengat, anak saya sedang ikut ke kantor, dan dia sampai menangis melihat saya kesakitan saat disengat. Kemudian saatnya mau tidur, si kakak, banyak alasan disuruh mencopot bajunya sendiri, ada saja alasannya, lalu iseng saya ingin dia kesal, “Kalau kakak, malas, copot baju sendiri, nanti pas bun ajak ke kantor, kakak, bun suruh sengat lebah juga.” Anak saya spontan, langsung berteriak tidak mau. Sampai dia kesal dan tiba-tiba menendang saya.
Saya tambah emosi, (hahaha) lalu saya bilang, “Kok, kakak tendang bun. Kan sakit kak.” Anak saya tiap kali berbuat salah, selalu saya ajarkan untuk meminta maaf, ya meskipun maafnya dia itu gampangan sekali, sekali pukul, minta maaf, pukul lagi, minta maaf lagi, jadi saya bilang gampangan. Kemudian, dia dengan mata sedih mengatakan, “Bun, aku minta maaf tadi nendang kaki bun.” Setelah itu, kami berjabatan tangan, dan masalah clear.

Karena ingin membahas masalah ini, saya mengadakan Puppet show boneka tangan sebelum tidur dengan dia, ceritanya membahas, bolehkan menendang orang tua, atau menghormati orang tua. Saat marah dan tidak, anak saya mungkin merasa kalua sudah berbuat salah, dan dia berjanji tidak akan mengulangi lagi, namun tetap saja, ada factor dari kesalahan saya karena keisengan saya, memancing rasa emosi kemarahannya, saya terkadang sengaja melihat sejauh mana, dia bisa marah dan mengontrol emosinya.

Dengan adanya Komunikasi Produktif, menantang saya, untuk berpikir positif dan lurus, yang mana terkadang hal itu sulit sekali, semoga saya bisa terus konsisten. Aamiin YRA.

#hari12
#tantangan17 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Komunikasi Produktif 11



YUPS

Tantangan hari ke-11, menurut saya tugas bunsay bukanlah tugas yang mudah, susah karena harus konsisten dengan perbuatan kita sehari-hari, yaitu praktek berkomunikasi dengan orang sekitar, pasangan, dan anak.  Jadi kemarin malam, entah kenapa emosi saya sedang labil, mungkin efek dari syndrome datang bulan, saya mudah sekali tersulut dengan emosi sehingga, komunikasi produktifnya jadi tidak berjalan dengan maksimal.

Si kakak, semalam, susah sekali diajak kompromi, mungkin karena saya yang emosi karena lelah seharian bekerja atau karena saya yang sedang moody. Anak saya berumur 3 tahun 10 bulan, masih disuapin jika makan, dan susah untuk disuruh konsisten duduk sambil makan, tiap malam, dia suka sekali nonton upin ipin di TV, jadi hampir tiap malam, saya pasti akan menemani dia makan, sambil menonton TV, selama menikmati acara TV favoritnya, dia akan duduk manis, namun ketika iklan datang, anak saya akan berlari kemana-mana, berulang kali saya menahan emosi karena kesal sambil tetap berkompromi, “Kakak, bunda senang, kalo kakak, makanya duduk.” Maka jika dia ingat dia akan duduk manis, namun lebih banyaknya dia akan tawaf seisi rumah. Terkadang membuat saya tambah emosi, proses makan yang tadinya bisa lebih cepat jadi terhambat karena banyaknya polah si kakak.

Jika sudah selesai makan, dia akan terus lanjut menonton TV sampe acara Favoritnya selesai. Setelah itu, si kakak akan masuk ke kamar, dan kembali bermain, anak saya susah sekali jika disuruh tidur tepat waktu, banyak sekali ritualnya yang dilakukan sebelum tidur, seperti ketika sudah sikat gigi, tinggal tidur, biasanya saya akan bertanya, apakah dia mau minum, kakak biasanya menjawab tidak, tapi ketika lampu kamar sudah dimatikan, dia akan menjawab, “mau minum, bun, ayah.” Dan kemudian lampu kamar nyala lagi, begitu seterusnya, minta ini itu, sehingga kadang membuat saya tidak sabaran. Kakak dengan banyak polahnya terkadang tampak mengesalkan, tapi ada kalanya komunikasi produktif yang saya praktekan berhasil, seperti, “kakak tolong buang sampahnya didapur.” Dia akan menjawab dengan manis, “Iya bunda.” Tapi ada kalanya mungkin seperti saya ketika moodnya sedang buruk, dia juga akan tampak sangat moody.


Belajar mengendalikan emosi buat saya yang dikatakan dewasa saja kadang susah menahan diri, bagaimanapula dengan balita umur 4 tahun kurang, yang cenderung temperemtal, itu mungkin karena pengaruh buruk saya. Menjadi dewasa dan menjadi orang tua adalah dua hal yang berbeda, yang terus saya pelajari sampe akhir hayat, semoga ALLAH SWT Selalu meridhoi tiap langkah niat baik yang saya lakukan. Aamiin YRA.  

#hari11
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Photo by Tatyana Dobreva on Unsplash

Monday, November 13, 2017

Komunikasi Produktif 10



Setiap anak, dilahirkan dengan keunikan tersendiri, setiap milyar DNA yang terkandung dalam tubuhnya, menjadi tanda bahwa dia tidak akan tertukar dengan orang lain satu sama lainnya. Begitu juga dengan anak saya, kadang saya sebagai orang tua suka membandingkan dengan anak seumurnya, meskipun saya tahu hal itu tidak baik, hanya saja sebagai suatu motivasi untuk saya mendidik anak saya jauh lebih baik lagi.

Hari ini sudah hari ke-10 Komunikasi Produktif tugas dari kelas Bunsay IIP yang sedang saya ikut, awalnya menjadi sebuah beban, karena saya tidak pandai menulis, tidak punya bakat, dan juga tulisan saya tidak menarik, tapi masalah yang sedang saya hadapi itu, ingin saya hadapi dengan positif, menjadi sebuah tantangan yang ingin saya taklukan dengan sekuat tenaga.

Beberapa hari sejak mempraktekan komunikasi produktif, perilaku anak saya berubah, menjaid lebih mudah dimengerti, seperti halnya, jika saya minta tolong sesuatu kepada anak saya, tolong diberikan dengan sopan dan tidak dilempar, saya selalu katakan itu, dan anak saya seperti mulai memahami perkataan saya, sehingga pada satu ketika, saat saya asal memberikan barang yang dia minta, anak saya dengan bijaknya berkata, “Bunda, kalo ngasih jangan dilempar.” Jleb kata-katanya menampar saya, saya sebagai orang dewasa yang mestinya dewasa dalam segala hal terutama memberikan contoh pada putri saya, malah diajarkan olehnya, malu rasanya saya hanya pintar berkata-kata namun miskin dalam memberi contoh yang benar, lain ceritanya, suatu ketika anak saya merengkek dan menangis karena minta dibelikan sebuah mainan, saya yang lelah karena sudah pergi seharian, berkata dengan nada yang agak tinggi, mungkin ditambah suara sekitar yang begitu bising, anak saya seperti mendengar saya berteriak kepadanya.

Dengan terus menangis tersedu, saya tanya perlahan sambil menatap matanya, “Kakak mau apa?” tanya saya tanpa mengalihkan pandangan, “Kakak, mau bunda kalo ngomong jangan teriak sama aku.” Lagi-lagi saya ditampar dengan ucapanya, rasanya hati ini terasa seperti teriris,berarti apa yang selama ini saya ajarkan dengan melakukan komunikasi produktif, sedikit banyak didengar oleh anak saya balita berusia 4 tahun kurang, dia mendengar, merekam, dan mengingatnya dengan baik. Ini merupakan satu pelajaran baru buat saya, bahwa saya harus menjadi contoh yang baik untuk putri saya, jika ingin dia menjadi seorang yang baik dimasa yang akan datang.

Cerita yang lainnya, anak saya sudah mulai mengikuti kelas PAUD didekat rumah, saya tidak pernah memaksanya, jika dia tidak ingin pergi ke sekolah, jadi ketika dia ngambek tidak mau kesekolah, saya hanya akan mendiamkannya. Namun suatu ketika, sejak mempraktekan komunikasi produktif, jika esok hari dia mulai sekolah, tiap malam sebelum tidur, saya selalu mengajaknya melakukan pillow talk, pembicaraan santai ditempat tidur, saya katakan, “Kakak, bunda senang kalau besok pagi, kakak bangun dengan senang hati, dan juga bunda senang kakak nanti malam, tidur dengan tenang.” Saya ucapkan kata itu berulang-ulang, agar dia mendengar dengan baik meskipun tidak focus. Alhamdulilah besok paginya, anak saya tanpa drama bangun pagi untuk sekolah. Dengan mudah dan mandi pagi tanpa tangisan. Saya tahu tiap pagi dia terkadang malas untuk memakai baju sendiri, jadi saya beri dia pilihan, “Kakak mau bunda bantu pakaikan, atau kalo bunda tidak bantu, kakak dicatat kebaikan disebelah kanan.” Dia menjawab, “Kakak mau dicatat kebaikan.” Saya tersenyum dengan puas, rasanya putri kecil saya, semakin dewasa, Terima kasih Ya RABB, saya akan menjadi titipan-MU dengan sepenuh hati. Aamiin YRA.

#hari10
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Photo by veriret . on Unsplash




Sunday, November 12, 2017

Komunikasi Produktif 9

Hari ini hari ke-9 tantangan komunikasi produktif, karena hari ini hari libur, saya iseng ingin pergi ke mal, karena sudah lama rasanya ngidam d'crepes dan belum juga kesampean sampe sekarang. sehingga kami sekeluarga memutuskan untuk pergi ke pusat pembelanjaan sambil berjalan-jalan di hari libur.

Saya bilang pada anak saya, kalo tantangan hari ini, adalah mandi dan pakai baju sendiri, sebenernya dia sudah bisa pakai baju sendiri, namun seringkali, alasannya banyak, sehingga anak saya suka sekali beragumen dengan berbagai alasan. sehingga penting bagi saya, untuk membiasakan kakak mandiri dalam mengurus dirinya sendiri.

Baru saja, saya menerapkan acara mandi ini, karena mandinya agak lama, dia suka sambil main, saya jadi tidak sabaran, sehingga bergegas memandikan anak saya, namun karena merasa kesal saya ambil alih, dia marah, dan menangis sambil berteriak kesal, lalu mendorong saya, merasa kesal.

Jujur saja, kalo terpancing saya akan marah dan membentak dia dengan suara yang lebih kencang, namun urung saya lakukan, karena jika hal tersebut saya lakukan, sia-sia rasanya komunikasi produktif yang telah saya bangun satu minggu ini. agar tidak terpancing saya memilih menjauh, namun anak saya malah semakin menangis kencang, mungkin karena dia merasa saya marah. saya tarik napas pelan, dan berusaha menghilangkan rasa kesal saya padanya. saya tanya padanya, "Kakak, mau pake baju sendiri? atau bunda pakein?

Anak saya masih menangis, "kalo bunda bantu, kakak tidak dapat bonus tantangan ya. " sahut saya lagi, " anak saya menganguk pelan, menandakan, kalo dia mau pake bajunya sendiri. akhirnya saya mengajaknya bercanda, dan diapun sudah tidak cemberut lagi karena kesal.

Selepas itu, kami kemudian bersiap untuk pergi ke mall, saat di mal, seperti biasa, anak saya melihat sesuatu yang menarik, dan dia akan merengek minta untuk dibelikan dengan berbagai cara, seperti menangis, ngambek, dan sebagainya.
saya pikir, ini saat yang tepat untuk membangun komunikasi produktif, saya memberikan dia pilihan, " kakak, mau beli mainan itu? " tanya saya, "iya" sahutnya sambil mengangguk, "Ok, kalau kakak mw beli mainan itu, nanti tidak dapat bonus tantangan, karena hadiah tantangan sudah kakak belikan mainan itu." sahut saya sambil menunggu persetujuan dia. "iya bunda" sahut anak saya semangat.

Akhirnya setelah berjalan-jalan sebentar, kami memutuskan untuk pulang. sesampainya dirumah, saya kembali mengingatkan anak saya, untuk mempertanggungjawabkan pilihan yang telah dia buat tadi. dan dengan tanggungjawab, anak saya berganti pakaiannya sendiri. senang rasanya komunikasi yang kami bangun menjadi begitu efektif, sehingga menghasilkan komunikasi dua arah yang positif.

Perubahan yang didapat dari komunikasi efektif hari ini, adalah. mengarahkan kakak untuk mengambil keputusan dengan pilihan yang telah saya arahkan. dengan cara yang efektif. sehingga dia merasa bahwa keputusan yang anak saya ambil adalah keputusan yang membuat dia senang tanpa saya paksakan. kalau dulu sebelum menggunakan komunikasi produktif, saya mungkin akan berkata, "Sudahlah ka, gak usah beli, mainan kakak juga banyak, bla..bla..bla." dan akan berakhir dengan nangis gak keruan ditambah ngambek. yang akhirnya berakhir dengan suasana hati yang kacau.

Namun jika sekarang dengan menggunakan komunikasi produktif, saya akan mengarahkan tujuan komunikasi sesuai dengan yang saya tentukan, dengan cara yang lebih efektif, yaitu, saya mau kakak senang, namun dia juga belajar mandiri, dengan belajar memakai bajunya sendiri. kakak merasa senang mendapat mainan baru, sekaligus dia belajar untuk mandiri.
Setiap hari, ada saja hal baru yang saya pelajari, dan itu terasa menyenangkan, membuat saya berpikir apalagi tantangan yang akan saya temukan kedepan. Pasti akan saya hadapi dengan pikiran positif dengan komunikasi produktif. terima kasih IIP.


#hari9
#tantangan10hari 
#komunikasiproduktif 
#kuliahbunsayiip 
Photo by Juliandra Durkin on Unsplash

Saturday, November 11, 2017

Komunikasi Produktif 8



Hari ini komunikasi produktif ke-8, tak terasa waktu bergulir begitu cepat, saat ini sudah hampir akhir tahun, tahun depan harus menyusun resolusi, cita-cita dan harapan baru, agar hidup terasa lebih bermakna dengan tujuan dan arah yang jelas. 

Pada hari ini saya tidak terlalu banyak mempraktekkan komunikasi produktif, karena anak saya lebih banyak bermain bersama sepupunya, sehingga dia tidak terlalu menempel pada saya. 

Hal yang ingin saya terapkan pada kakak adalah mengajarkan dia untuk makan dengan tenang dan duduk, anak saya tipe yang cukup sulit diajak duduk saat makan. namun saya mau dia belajar berkonsentrasi saat makan dan menurut saya ini adalah tantangan tersendiri buat saya. namun saya tetap mau mencobanya. 

Sewaktu makan pagi tadi, karena sepupunya datang ke rumah, kakak sudah mulai tidak fokus mengikuti intruksi saya, tapi saya tetap mau mencoba konsisten dengan komunikasi produktif yang saya praktekan,  saya bilang padanya "Kakak, bunda sedih kalo kakak makanya jalan-jalan." saya ucapkan ini sekali, tidak berlaku, yang kedua dan ketiga juga tidak berpengaruh banyak, kemudian saya ubah kata-kata saya, mungkin ada yang salah disini, lalu saya ganti menjadi "Kakak, bunda senang kalau kakak makanya duduk." "supaya perutnya tidak sakit." anak saya mulai mendengarkan perintah saya, namun tidak bertahan lama, dia tetap jalan-jalan sambil makan, saya ulangi lagi sampai tiga kali, dengan menambahkan kata dorongan, "Kakak, hebat, makanya duduk ya, bunda senang." dan kata-kata ini berhasil menahannya, sampai sendokan terakhir, anak saya makan dengan tenang dan duduk sambil saya bacakan sebuah buku cerita. 

Dari sini saya belajar, anak sekecil ini, pintar sekali memahami makna dan kata, setiap orang hanya ingin mendengar kata-kata yang membuatnya merasa dihargai, yang akan menjadikannya percaya diri bahwa mereka orang yang baik, saya belajar banyak dari komunikasi produktif ini, dan perubahan yang saya dapat, tidak hanya perilaku anak saya berubah dan menjadi manis, namun juga kata-kata yang keluar dari mulut saya lebih bermakna dan efektif. 

Masalah yang akan saya hadapi hari-hari mendatang, akan menjadi tantangan yang pasti akan saya taklukan sepenuh hati, terima kasih atas kesempatan hidup ini, terima kasih Ya RABB.

#hari8
#tantangan10hari 
#komunikasiproduktif 
#kuliahbunsayiip

Photo by Autumn Studio on Unsplash

Friday, November 10, 2017

Komunikasi Produktif 7


Hari Jum’at adalah hari berkah, hari yang saya suka selain karena berkahnya, dan juga karena besok saya libur, dan biasanya malam sabtu, saya punya “Me” time yaitu nonton film. Bisa sampe dini hari nontonya, tentunya bukan kebiasaan yang baik mengingat hal ini juga tidak baik untuk tubuh jika dilakukan dalam waktu yang berkepanjangan. Tapi buat saya malam sabtu adalah malam bebas, apalagi kalo si kakak sudah tidur, saya bebas berekspresi.

Lanjut cerita dari komunikasi produktif dihari ke-7, saya akan sedikit bercerita tentang mengubah persepsi kata ‘Masalah’ menjadi ‘Tantangan’ ya awal mulai pertama kali melakukan komunikasi produktif, saya merasa menghadapi kakak adalah masalah besar yang biasanya saya hindari tidak dihadapi, karena kemalasan saya. 

Namun seiring berjalan waktu, ternyata menyenangkan merubah persepsi dari pola pikir kita menjadi sesuatu yang berdampak positif. Sehingga apapun kata yang terucap adalah kata yang positif. Hal ini yang sekarang selalu saya terapkan dalam komunikasi produktif hari-hari terutama kepada anak saya. Seperti contoh, anak saya hobi sekali lari-lari dalam rumah, entah kenapa dia suka sekali, makan sambil berlari-lari, meski saya tahu hal itu tidak baik, tapi ketika moodnya buruk, saya mendiamkan apa yang dia lakukan, jika sebelum komunikasi produktif itu ada, saya akan mengatakan, “Kakak, makan itu duduk, jangan lari-lari, seperti binatang saja.” Dan dia akan sambil lalu mendengarkan dan tetap berlari, namun sekarang,. Jika hal itu terjadi. Saya hanya akan berkata, “Kakak, jalan pelan-pelan saja.” Dan seketika dia akan berhenti berlari, dan mulai mengikuti intruksi saya. Jika dia lupa, saya akan ingatkan kembali, sampai anak saya mendengar apa yang saya intruksikan, sejauh ini hal itu terasa sangat efektif, saya terlepas dari sifat marah-marah, dan juga stress karena berpikir anak saya tidak nurun setiap kali saya melakukan komunikasi yang tidak produktif. 

Perubahan yang didapat seiring dengan adanya Komunikasi Produktif yang saya praktekan dari hari ke hari,. Membuat komunikasi kami begitu mengasyikan dan jauh dari amarah, dan prasangka. Ya merubah persepsi kata ternyata begitu berdampak besar dalam membangun hubungan dengan anak dan pasangan. Semoga kedepannya, masalah yang akan saya hadapi kelak menjadi sebuah tantangan yang mengasyikan. 

SEMANGAT.  

#hari7 
#tantangan10hari 
#komunikasiproduktif 
#kuliahbunsayiip 

 Photo by Zane Muir on Unsplash

Thursday, November 9, 2017

My Dream Story

Kali ini saya iseng bercerita tentang Negeri Impian saya, selain Mekkah tentunya yang belum kesampean juga untuk pergi kesana, dari kecil saya lupa sejak usia berapa, saya suka sekali nonton film doraemon, rasanya enak sekali ya, kalo punya kucing ajaib seperti itu, bisa dengan mudah pergi kemana saja dengan mesin waktunya. Kemudian memasuki bangku sekolah dasar, saya mulai mengemari film animasi Jepang, atau anime, dahulu yang paling hit adalah Sailor moon, saya ingin sekali menjadi Ami, ami yang pandai dan cerdas. 

Selepas masa sekolah dasar, saya punya kesukaan baru yaitu baca shoujo manga, alias komik remaja yang biasanya memuat cerita cinta-cintaan jaman sekolah. Indahnya masa kisah-kasih disekolah. Nah makanya saya suka banget cerita seperti Shoujo Manga ini, meskipun jaman sekolah dulu, gak pernah ngalamin. Aha. Saya memang anti pacaran jaman sekolah. Kemudian seiring bertambahnya usia, keinginan saya semakin besar untuk pergi ke Jepang. 

Ya saya ingin sekali pergi kesana. いつか日本に行きます。本当に行きたい。 

Mungkin efek dari nonton anime semasa kecil, atau baca manganya, bahkan sejak bangku sekolah menengah atas, saya belajar menulis hiragana seorang diri. Konyolnya semua mata pelajaran saya tulis dengan huruf Katakana. Kemudian, ketika duduk dibangku sekolah menengah atas, saya masih senang dengan khayalan tinggi shoujo manga yang romantic, dan juga animenya, satu anime yang selalu jadi favorit saya adalah Itazura na Kiss selain anime dari studio Ghibli tentunya.

Lalu selepas SMA saya sempat ingin sekali kuliah sastra Jepang, namun apa daya impian saya kandas, karena saya tidak lulus. Sedih sekali rasanya saat itu, tapi ALLAH SWT masih saying dengan saya,. Dia berikan cara yang tak pernah saya duga. Saya pernah merasakan saat-saat saya ingin sekali membuang impian saya, impian untuk pergi ke Jepang, pernah saya kubur rapat-rapat, saya bahkan muak dengan pelajaran Bahasa jepang. Saya pernah ada masa-masa itu. Namun entah kenapa, tiba-tiba keinginan itu datang lagi,.tiba-tiba ada pameran GATF , sempat galau awalnya, maju-tidak-beli-enggak, dan akhirnya impian saya yang pernah kandas 12 tahun, terwujud sudah,. Bulan September lalu, saya pergi ke Jepang, perjuangan Panjang selama menyusun jadwalnya, mengurus hotel, tiket bis, visa dan lain-lain, tapi Allah SWT mudahkan semua prosesnya disana, Subhanallah. Impian itu bisa terwujud. 

Mungkin bagi sebagian orang pergi kesana mudah ya, tapi bagi saya sungguh luar biasa ceritanya. Karena budget terbatas, saya pergi tanpa tour guide, kan sekarang umumnya backapackeran, jadi saya backpackeran ke Jepang pertama kalinya, alhamdulilah Bahasa jepang yang cetek banget banyak membantu, dan rata-rata orang jepang juga baik-baik, Cuma rata-rata kota kecil, dliuar Tokyou, kurang bisa Bahasa inggris. Kalaupun bisa Bahasa inggrisnya kurang jelas, intinya 凄い。

Rata-rata orang Jepang yang saya temui adalah orang yang baik-baik, sehingga menginspirasi saya menjadi orang yang jauh lebih baik lagi kepada sesama. Cerita komplit dan itin dll, mungkin akan  saya tulis  someday. Intinya jangan pernah menyerah dengan impian sekecil apapun, semua bisa jadi nyata dengan usaha, kerja keras, dan pasti doa kepada ALLAH SWT, tanpa campur tangan ALLAH SWT, gak akan mungkin terjadi. 

Photo by JJ Ying on Unsplash

Komunikasi Produktif 6


WOW

Sudah masuk tantangan Hari ke-6, besok sudah hari Jum’at, dan lusa adalah waktunya weekend. Saat weekend adalah saat yang tepat untuk mempraktekan “seharian penuh bisa praktek komunikasi produktif, dan itu artinya saya juga harus mengerjakan tugas bunsay, saat hari libur nanti. Agak berat rasanya, karena kalo hari libur, waktunya untuk malas-malasan. (tolong jangan ditiru ya nak :D) 

Hari ini saya akan bercerita hasil observasi saya tadi malam, kali ini tantangan yang saya hadapi adalah masih sama, si kakak masih suka main batu-gunting-kertas dan sepertinya dia belum merasa bosan. Permainan ini saya upgrade sedikit dibandingkan hari kemarin.

Permainan kali ini, dimaikan dengan adanya Punishment jika, masing-masing peserta kalah dari permainan. Yang telah ditentukan diawal. Jika salah satu peserta kalah, maka, hukumannya boleh dipilih, apakah menyanyi atau menari. Ide ini mucul spontan saat permainan, dan saya pikir dapat dipraktekkan untuk meningkatkan rasa percaya diri si kakak. Permainan berjalan seru, saya yang sudah mulai bisa membaca arah permainan kakak, sudah tahu celahnya, menang dari kakak, meskipun kadang pikirannya sulit dibaca. 

Akhirnya permainan berjalan mengasyikan, permainan dilakukan sebanyak 3 kali. Karena saya mau meng-cut waktu dengan maksimal mengingat jam tidur kakak adalah Pukul 20.00. yang terkadang sering kali molor sampai pukul 20.30.

Jadi pada babak pertama, kakak kalah. Lalu saya suruh dia memilih hukumannya sendiri, apakah menyanyi atau menari, kakak memilih menyanyi. Dia menyanyi lagu “Naik Kereta Api” dengan sura pelan dan hampir tidak terdengar, saya semangati terus, dia tetap menyanyi dengan suara pelan, ketika lagu berakhir, saya berikan tepukan tangan, dan mengatakan “kakak hebat sudah berani menyanyi mengikuti hukuman.

Kemudian pada babak kedua dan ketiga, kakak kalah untuk ke-tiga kalinya, dan memilih hukuman untuk menyanyi lagi, lagu terakhir itu, kakak menyanyi “Pada Hari Minggu” dengan suara yang agak kencang, saya rasa percaya dirinya sudah mulai terpupuk, saya selalu menyemangatinya, dan memberikan applause jika kakak berhasil memenuhi hukuman dengan sportif.

Permainan berakhir dengan menyenangkan, meskipun suara saya hampir serak, karena selalu menyemangati kakak untuk tidak pernah putus asa, kala bosan terus saya teriakan “Semangat kak, ayo semangat!!” dan akhirnya kakak pun ikut berkata, “Semangat!!!”

Lama kelamaan rasanya menyenangkan main dengan si kecil. Awalnya terasa bosan karena saya lelah sudah bekerja seharian dikantor, dan mesti mengurusi anak sepulang kerja, namun sekarang selalu saya nantikan, agar permainan sebelum tidur serasa mengasikkan.

Perubahan yang didapat hari ini adalah, Anak saya sudah mau mengikuti jalan permainan yang saya buat dengan senang hati, sudah mulai berubah dibandingkan hari pertama melakukan komunikasi produktif dimana kakak mudah sekali ngambek jika permainannya kalah, namun sekarang dia sudah mulai berubah dan lebih mudah diajak bekerja sama, dulu tiap meminta tolong kakak ambil minum saya sekalu berkata, “Kakak, tolong ambilkan bunda minum.” Sekarang dengan komunikasi Produktif, saya tinggal mengatakan, “Siapa yang mau tolong bunda, ambil minum.” “Saya bunda” ucap anak saya lantang.

Terimakasih IIP, ini baru langkah awal, saya yakin tantangan kedepan akan semakin menarik untuk dijalankan, Semoga ALLAH SWT memudahkan saya untuk mendidik anak kami kelak mengenal dan mencintai ALLAH SWT lebih, lebih, dan lebih lagi. Aamiin YRA .

#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiprodukti
#kuliahbunsayiip

Photo by MI PHAM on Unsplash

Wednesday, November 8, 2017

Komunikasi Produktif 5


Tantangan Hari ke-5, waktu berjalan begitu cepat, akhir pekan sudah didepan mata, kali ini saya akan menceritakan kegiatan pada hari ke-5, semalam sepulang kerja, saya mengajak anak saya main, alhamdulilah dia teralihkan dari menonton TV kegemarannya.

Jadi kali ini komunikasi produktif yang saya praktekan berkaitan dengan mengontrol emosinya yang cukup labil mengingat dia belum bisa mengontrol emosinya sendiri.

Tadi malam saya ajak anak saya permainan sederhana, yaitu main batu, gunting, kertas, saya ajarkan caranya dan apa reward serta punishment jika kalah dalam permainan. Saya mengunakan mainan kesukaannya sebagai reward, jika dia menang, dia boleh mengambil punya saya, dan jika saya yang menang begitu juga sebaliknya.

Pada awal permainan semua berjalan lancar, karena sering kali permainan kami seri, namun ketika mencapai satu titik dimana anak saya kalah terus dalam permainan, dia mulai terlihat sangat kesal, dan emosinya memuncak. Dia ngambek dan tidak mau main lagi, sambil merajuk dan menangis. Dan pergi meninggalkan permainan.

Dengan tetap tenang dan menahan emosi, saya bilang, “kakak, mainnya udahan nih.”
Kemudian, dia kembali ke area permainan, “Habis, aku kalah terus, bunda dapat mainan banyak terus.” Sambil terus ngambek dan merajuk.

Saya hanya tersenyum, dan mengatakan . “ kakak dalam permainan yang seperti itu, kadang kalah, kadang menang , itu hal yang wajar.”

Anak saya tetap ngambek, kemudian saya hibur dia sambil mengatakan, “Ayuk kita main lagi, kakak baca bismilah biar menang.” Sahut saya sambil tenang dan menyakinkan dia.
Anak saya masih nampak, marah, karena merasa dia kalah, kemudian saya keluar dari kamar untuk mengambil minum.

Setelah saya kembali ke kamar, anak saya tersenyum, saya tebak, dia telah mengambil sesuatu pada permainan saya, lalu saya tanya, “waktu bunda keluar, kakak ambil sesuatu ditempat bunda? “.
Anak saya menyeringai “Iya aku ambil bun.”,

Saya tersenyum dan berkata“Ayo kembalikan, kakak harus fair, tidak boleh berbuat curang.” Sahut saya sambil tersenyum” lalu dengan senang hati dia tertawa dan mengambalikan permainan saya.
Lalu kami melanjutkan permainan. Permainan ini berlangsung seru, anak saya berkali-kali kalah dan permainannya hampir habis, kembali dia marah-marah karena kalah.

Saya tetap tersenyum, dan mengatakan kalimat-kalimat positif agar dia tidak menyerah dan mau bertindak sportif, tidak marah-marah dan ngambek, terus saya katakan. Akhirnya dia mau mengikuti arahan saya, dan permainan menjadi mengasikan tanpa emosi meluap-luap anak saya seperti sebelumnya.

Dari sini saya belajar, bahwa kata-kata positif akan lebih mudah dicerna oleh anak-anak,. Daripada mengucakan kata-kata yang tidak kita inginkan terjadi, namun karena emosi menguasai, kata-kata tersebut semakin menancap keluar dari mulut kita.

Perubahan yang didapat hari ini adalah, anak saya mulai mau bermain sportif, sebelumnya jika permainan tidak sesuai dengan keinginnya, dia akan cenderung ngambek, nangis, dan marah-marah. Dengan Komunikasi Produktif, membantu anak saya untuk mengontrol emosinya, dan tentunya emosi saya pribadi dalam mendidik anak saya.

Akhirnya permainan hari itu berjalan sukses. Hati anak pun menjadi senang. Semoga semakin mudah saya menyampaikan kata-kata dengan nada positif. Agar membawa dampak perubahan yang baik dalam kehidupan kami kedepannya dalam mencari ridho ALLAH SWT, Aamiin YRA .

#hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Photo by Leo Rivas-Micoud on Unsplash

Tuesday, November 7, 2017

Komunikasi Produktif 4


Yay.

Tantangan hari ke-4, tak terasa 4 hari sudah berlalu mempraktekan Komunikasi Produktif, meski awalnya dilakukan dengan kesulitan, lama-kelamaan menjadi enjoy dan terasa menyenangkan.
Kali ini saya akan berbagi cerita tentang Proses Komunikasi Produktif, sebelumnya saya mudah sekali marah, bad mood, dan akhirnya jadi bertengkar dengan anak saya yang berumur 4 tahun kurang, mirisnya saya perang dengan anak kecil, hahaha,. Ya tidak pernah terbayangkan, saya yg harusnya dewasa dalam bersikap dan memberi contoh yang baik kepada anak saya, tentu saja malah bersikap sebaliknya.

Saya sudah berjanji didalam hati untuk menjadi lebih baik lagi, lagi dan lagi. Aamiin YRA
Tadi malam saya sudah mempraktekan bagaimana berkomunikasi yang produktif, hal ini mesti dilakukan konsisten dari hari ke hari agak hasilnya bisa dilihat.”

Setiap malam sepulang kerja, saya mesti menyuapi anak saya makan malam, karena saya bekerja, jadi tugas saya dimalam hari adalah memnyuapi anak saya, agak PR juga karena saya sudah lelah bekerja seharian dan mesti menyuapi, saya ingin anak saya cepat mandiri, tapi semua pasti tidak bisa instan, mengingat saya juga bekerja, tidak akan bisa maksimal. Jadi tadi malam, untuk menyulut emosi saya, saya coba praktekan

Saya “Kakak mau makan sekarang, atau nanti 5 menit lagi”. Saya coba memberi pilihan atas kalimat saya, agar dia merasa tidak merasa disuruh makan, dan happy untuk makan

Anak saya “aku mau makan 5 menit lagi bunda, sambil nonton Upin -Ipin ,” sambil santai

Ok berarti, anak saya paham apa yang saya maksud, dan saya bisa makan terlebih dahulu sebelum menyuapi dia. Tanpa marah-marah memaksa dia makan.

Setelah makan, saya ambil makan anak saya, sambil menemani dia, nonton TV, kemudian, saya ingat pintu kamar belum ditutup, sekali lagi saya memutar otak untuk menyuruh anak saya dengan Komunikasi Produktif.

Saya “Siapa yang mau tolong Bunda? tutup Pintu, jadi anak hebat”
Anak saya “Iya bunda.” Sambil asik mengunyah dan masih nonton TV
Saya tahu anak saya malas, tapi tetap ingin mencoba “Ayo siapa yang mau jadi anak Hebat, tolong Bunda menutup pintu Kamar?”
Anak saya ”Iya Bunda” sambil jalan dan menutup pintu

Saya tahu dia malas, dan saya juga tahu, dia melakukan setengah hati, tapi saya tetap mau mencoba dimengerti tanpa emosi

Akhirnya misi saya hari itu, sukses, kemajuan yang tidak banyak memang, tapi perubahan yang saya dapat adalah, dengan komunikasi Produktif, menjauhkan saya dari emosi yang naik turun pada saya, dan menjauhkan stress, karena pikiran saya, anak saya tidak mau menuruti keinginan saya, karena kata-kata yang tidak produktif dan tidak efektif sehingga hasilnya akan Negatif.

Saya harus selalu berjuang untuk merubah diri saya menjadi lebih baik lagi, dari hari ke hari tanpa menyerah dan mengenal lelah, agak bisa mencontohkan yang terbaik untuk buah hati kami. Menjadi generasi Rabbani. Aamiin YRA

#hari4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Contact

DISCLAIMER
The content of this blog is fully written and edited by me. All the opinions and thoughts expressed here are mine. most of the photographs on this blog by unplash, unless stated otherwise by my self.

CONTACT
You can Reach me HERE

About

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

I'm just ordinary people who take everyday as a chance to become a better Muslim in eyes of ALLAH SWT . إِنْ شَاءَ اللّهُ

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Monday, November 6, 2017

Komunikasi Produktif 3



Hari ini tantangan Hari ke-3 Kelas Bunsay, sejujurnya menulis di blog setiap hari sebagai bagian dari mengumpulkan tugas kelas Bunsay, bukanlah hal yang mudah mengingat waktu saya yang terbatas dan juga saya tidak pandai menulis, meskipun jaman masih muda dulu, saya ingin sekali menjadi penulis novel, keluar dari konteks cerita diatas, komunikasi produkstif yang ingin saya ulas adalah.

Liburan weekend kemarin saat berkunjung kerumah kakak saya di Bandung, kami bertiga, saya, suami dan anak. Pergi mandiri ke Bandung, ini long trip pertama kami, tujuannya memang bukan jalan-jalan tapi pure untuk menengok kakak saya.

Komunikasi produktif yang saya bangun bersama anak saya, adalah saat perjalanan panjang ini, dia merengek tak karuan karena tiba-tiba ingin sekali membawa tas.

Anak saya “ bunda aku juga mau bawa tas.” Dengan nada merengek
Saya “ kakak tadi gak bilang bunda, kalo mau bawa tas sendiri.”
Anak saya “habis tadi udah penuh, aku males.” Penekanan aku males menunjukkan emosinya yg tidak labil, anak saya berumur hampir 4 th tahun depan, tapi mungkin karena saya kurang baik mencontohkan sifat saya didepan anak, dia suka sekali merengek tidak jelas arah.
Dengan sedikit menarik napas “yaudah lain kali kalo pergi, kita bawa tas kakak.”
Anak saya “ gak mau, sekarang bunda.”
Saya “gak ada nak, tas kamu dirumah uti”
Anak saya (sambil teriak-teriak) “aku mau tas bunda, tas,” mulai menangis,
Suami yang sedang konsentrasi menyetir merasa agar terganggu, dan dengan nada tinggi dia berkata “kakak, ayah sudah bilang, kalo ayah nyetir kakak gak boleh rewel.”
Anak saya sangat takut jika ayahnya marah, karena merasa ketakutan tiba-tiba dia menangis,
Dengan menangis, konsentrasi suami saya semakin terganggu,. Lalu dengan cepat saya mulai mempraktikan Komunikasi Produktif.
Saya “kakak maunya apa? Ayah sedang menyetir, kalo nanti kakak menangis, ayah marah karena terganggu”
Anak saya “kakak mau tas bunda”
Saya “pake tas bunda, mau?”
Anak saya ”gak tas bunda jelek”
Karena sudah kehabisan akal,. Saya tawari saja, cemilan kesukaan saya, “kakak, mau lidi, makan bareng2 yuk sama bunda”
Seketika dia tersenyum, “ mau bunda”

Ya masalah selesai, semudah itu, tanpa saya emosi, saya hampir tersulut emosinya dan ingin sekali mengatakan “kakak jangan nangis, udah diem, ayah marah, kakak berisik.”

Kata tersebut mungkin akan menyelesaikan masalah saat itu, tapi tidak menyelesaikan masalah saya dikemudian hari dengan masalah yang sama. Menahan diri dalam berkomunikasi dengan pikiran tenang dan tidak tersulut emosi bukanlah hal yang mudah. Saya selalu belajar akan hal itu.
Komunikasi dengan menyampaikan apa yang saya mau, bukan yang tidak saya inginkan dengan kata-kata negatif, yang akan selalu terekam dimemori anak saya.

Yah tantangan IIP memang sulit, memaksa saya untuk menulis, dan memaksa saya menjadi Ibu Profesional sesuai dengan kemampuan saya yang tak terbatas. Yang mungkin tidak saya sadari kalo saya mampu.

Perubahan yang didapat, saya lebih mudah menyampaikan apa yang ingin saya katakan kepada anak saya, tidak dengan emosi, tidak dengan amarah, namun dengan kata-kata sederhana yang mudah dia pahami.

Saat ini saya akan selalu belajar untuk menyampaikan keinginan saya dengan kata-kata sederhana dan efektif, mencari inti dari maksud keinginan saya dengan kata-kata yang mudah dipahami oleh lawan bicara.

#hari3
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Thursday, November 2, 2017

About my Desain


Saya punya sebuah impian, keluar dari kantor dan menjadi seorang designer graphic, punya kelas online, dan ngajar di skillshare, impian yang sangat manis, kantornya cukup kamar kecil dipojok rumah kami kelak, namun lagi-lagi saya mungkin tidak benar-benar bisa menyuwujudkannya, karena saya selalu merasa takut, apakah menggambar makhluk itu diperbolehkan, apakah kelak saya akan diminta pertanggungjawabannya diakhirat, pikiran itu selalu bekecamuk dalam hati saya, puncaknya adalah ketika saya memenangi lomba mendesain yang diadakan oleh supermarket lokal untuk recycle bagnya.

Baru kali itu saya mengikuti lomba dan langsung menang peringkat kedua. tidak menyangka dan sangat suprise. saya bisa menang lomba pertama kali, namun rasa percaya diri itu runtuh, ketika membaca sebuah hadist, bahwasannya orang yang mengambar menyerupai makhluk ciptaan Tuhan, niscaya dia akan diminta untuk menghidupkannya diakhirat kelak, saya merasa kelu, gemetar dan ketakutan, karena sudah pasti tak akan mampu memberi nyawa pada gambar saya, saat itu juga sya mengundurkan diri dari kompetesi itu, dan berniat tidak akan pernah mengambar makhluk hidup lagi, otomatis karir saya sebagai designer graphic mungkin akan batal, tapi saya yakin Allah SWT sayang saya, sya menemukan keasyikan lain selain menggambar, akan saya ceritakan selanjutnya.

*gambar diatas adalah, gambar saya saat mengikuti lomba tempo hari dan mungkin kenangan terakhir dalam menggambar makhluk hidup"

Komunikasi Produktif 2



Temanya, masih komunikasi produktif sampai 10 hari kedepan, terkadang apa yang ingin kita samapaikan dengan apa yang ditangkap oleh orang,belum tentu sesuai, tentu saja kadang kala kesalahpahaman itu ada, yang jadi penyelesainnya adalah bagaimana menyampaikan maksud dari pikiran kita kepada orang lain dalam bentuk komunikasi efektif serta mudah dimengerti oleh orang lain.

Seperti contoh, saya ingin sekali lepas dari ketergantungan gadget, sehingga memilih mengikuti kelas Bunsay Offline, meskipun dengan ikut kelas offline, waktu saya dihari weekend agar berkurang, namun suami saya merasa keberatan karena kalo saya pergi saat weekend juga, bagaimana dengan anak kami, karena weekday saja, saya kerja dan sudah banyak menghabiskan waktu bersama dengan anak, hal itu akan menciderai perasaan anak, yang sudah kehilangan sosok Bundanya, karena saya bekerja, namun maksud dari tujuan itu baik, karena saya ingin memperbaiki diri saya, untuk menjadi jauh lbh baik lagi. kemudian mungkin karena cara bicara saya yang sulit dimengerti lawan bicara, suami saya marah karena saya egois hanya mementingkan diri sendiri.

Kamipun bertengkar, namun setelah membicarakannya dengan kepala dingin, maksud saya dapat dimengerti, hanya saja penyamapainnya kurang dipahami, suamipun menyetujui keputusan saya untuk mengikuti kelas offline, dengan syarat saya sudah belajar mengurangi ketergantungan menggunakan HP, saat pulang dari kantor, sepulang dari kantor adalah waktu yang dikhususkan untuk anak saya sampai dia tertidur.

Dari sini saya belajar banyak, komunikasi itu adalah sangat penting dalam membangun sebuah hubungan dengan orang lain, dapat berbicara saja tidak cukup, yang benar adalah dapat berkomunikasi dengan maksimal dengan efektif dan tanpa urat. semoga saya konsisten.

#hari2
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif 1


Materi pertama dikelas Bunda Sayang, adalah mengenai Komunikasi Produktif, sejujurnya saya belum ikut kelasnya, saya mengintip blog kakak saya yang telah lebih dahulu mengikuti kelas tersebut, jujur sejak ikut IIP, saya berubah, meski tak banyak, tapi mengarah kepada arah yang lebih positif.

kelas saya sebelumnya adalah, kelas Matrikulasi, pengenalan dasar sebelum melangkah di kelas selanjutnya, setiap stage terasa makin sulit, dan mesti dipraktekan hari ke hari. mengerjakan Game Level 1 merupakan tantangan tersendiri untuk saya,dan saya ingin belajar menjadi Ibu yang jauh lebih baik lagi.

komunikasi yang biasa saya lakukan dengan Pasangan atau anak, yang langsung dan kesasaran, maksud dan tujuannya sama, hanya saja, penyampaiannya kurang enak didengar.

contohnya : kata-kata yang paling sering saya ucapkan kepada anak saya adalah, "CEPAT" kata ini mungkin bisa puluhan kali dalam sehari saya ucapkan, mengingat anak saya, kadang suka mood manjanya mood malasanya, membuat saya mudah marah dan tersulut, emosinya. Hiks.

Dengan tantangan hari pertama ini, saya mencoba lebih mencari cara agar maksud saya dipahami namun kata-katanya mengandung muatan positif seperti "Kakak, makanya hebat, kalo cepat nanti jadi kuat" sebelumnya "Kakak, cepat makanya, jangan lama2nya"

Kedua kalimat diatas mempunyai maksud sama, dengan kata-kata yang berbeda.
semoga kedepannya komunikasi saya lebih terarah dan bermakana, karena konsisten itu, sungguh sulit. Semangat.張ってください

#hari1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jumping


Saya ingin melompat tinggi, mencapai impian dan masa depan. hidup kadang tidak selalu sesuai dengan impian. karena itu saya ingin melompat melewati batasan limit saya, dan menjadi extraordinary people. berjuang dengan hidupnya, berjuang untuk impiannya.