Hari ini tantangan Hari ke-3 Kelas Bunsay, sejujurnya menulis di blog setiap hari sebagai bagian dari mengumpulkan tugas kelas Bunsay, bukanlah hal yang mudah mengingat waktu saya yang terbatas dan juga saya tidak pandai menulis, meskipun jaman masih muda dulu, saya ingin sekali menjadi penulis novel, keluar dari konteks cerita diatas, komunikasi produkstif yang ingin saya ulas adalah.
Liburan weekend kemarin saat berkunjung kerumah kakak saya di Bandung, kami bertiga, saya, suami dan anak. Pergi mandiri ke Bandung, ini long trip pertama kami, tujuannya memang bukan jalan-jalan tapi pure untuk menengok kakak saya.
Komunikasi produktif yang saya bangun bersama anak saya, adalah saat perjalanan panjang ini, dia merengek tak karuan karena tiba-tiba ingin sekali membawa tas.
Anak saya “ bunda aku juga mau bawa tas.” Dengan nada merengek
Saya “ kakak tadi gak bilang bunda, kalo mau bawa tas sendiri.”
Anak saya “habis tadi udah penuh, aku males.” Penekanan aku males menunjukkan emosinya yg tidak labil, anak saya berumur hampir 4 th tahun depan, tapi mungkin karena saya kurang baik mencontohkan sifat saya didepan anak, dia suka sekali merengek tidak jelas arah.
Dengan sedikit menarik napas “yaudah lain kali kalo pergi, kita bawa tas kakak.”
Anak saya “ gak mau, sekarang bunda.”
Saya “gak ada nak, tas kamu dirumah uti”
Anak saya (sambil teriak-teriak) “aku mau tas bunda, tas,” mulai menangis,
Suami yang sedang konsentrasi menyetir merasa agar terganggu, dan dengan nada tinggi dia berkata “kakak, ayah sudah bilang, kalo ayah nyetir kakak gak boleh rewel.”
Anak saya sangat takut jika ayahnya marah, karena merasa ketakutan tiba-tiba dia menangis,
Dengan menangis, konsentrasi suami saya semakin terganggu,. Lalu dengan cepat saya mulai mempraktikan Komunikasi Produktif.
Saya “kakak maunya apa? Ayah sedang menyetir, kalo nanti kakak menangis, ayah marah karena terganggu”
Anak saya “kakak mau tas bunda”
Saya “pake tas bunda, mau?”
Anak saya ”gak tas bunda jelek”
Karena sudah kehabisan akal,. Saya tawari saja, cemilan kesukaan saya, “kakak, mau lidi, makan bareng2 yuk sama bunda”
Seketika dia tersenyum, “ mau bunda”
Ya masalah selesai, semudah itu, tanpa saya emosi, saya hampir tersulut emosinya dan ingin sekali mengatakan “kakak jangan nangis, udah diem, ayah marah, kakak berisik.”
Kata tersebut mungkin akan menyelesaikan masalah saat itu, tapi tidak menyelesaikan masalah saya dikemudian hari dengan masalah yang sama. Menahan diri dalam berkomunikasi dengan
pikiran tenang dan tidak tersulut emosi bukanlah hal yang mudah. Saya selalu belajar akan hal itu.
Komunikasi dengan menyampaikan apa yang saya mau, bukan yang tidak saya inginkan dengan kata-kata negatif, yang akan selalu terekam dimemori anak saya.
Yah tantangan IIP memang sulit, memaksa saya untuk menulis, dan memaksa saya menjadi Ibu Profesional sesuai dengan kemampuan saya yang tak terbatas. Yang mungkin tidak saya sadari kalo saya mampu.
Perubahan yang didapat, saya lebih mudah menyampaikan apa yang ingin saya katakan kepada anak saya, tidak dengan emosi, tidak dengan amarah, namun dengan kata-kata sederhana yang mudah dia pahami.
Saat ini saya akan selalu belajar untuk menyampaikan keinginan saya dengan kata-kata sederhana dan efektif, mencari inti dari maksud keinginan saya dengan kata-kata yang mudah dipahami oleh lawan bicara.
#hari3
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
No comments :
Post a Comment