SOCIAL MEDIA

Monday, November 13, 2017

Komunikasi Produktif 10



Setiap anak, dilahirkan dengan keunikan tersendiri, setiap milyar DNA yang terkandung dalam tubuhnya, menjadi tanda bahwa dia tidak akan tertukar dengan orang lain satu sama lainnya. Begitu juga dengan anak saya, kadang saya sebagai orang tua suka membandingkan dengan anak seumurnya, meskipun saya tahu hal itu tidak baik, hanya saja sebagai suatu motivasi untuk saya mendidik anak saya jauh lebih baik lagi.

Hari ini sudah hari ke-10 Komunikasi Produktif tugas dari kelas Bunsay IIP yang sedang saya ikut, awalnya menjadi sebuah beban, karena saya tidak pandai menulis, tidak punya bakat, dan juga tulisan saya tidak menarik, tapi masalah yang sedang saya hadapi itu, ingin saya hadapi dengan positif, menjadi sebuah tantangan yang ingin saya taklukan dengan sekuat tenaga.

Beberapa hari sejak mempraktekan komunikasi produktif, perilaku anak saya berubah, menjaid lebih mudah dimengerti, seperti halnya, jika saya minta tolong sesuatu kepada anak saya, tolong diberikan dengan sopan dan tidak dilempar, saya selalu katakan itu, dan anak saya seperti mulai memahami perkataan saya, sehingga pada satu ketika, saat saya asal memberikan barang yang dia minta, anak saya dengan bijaknya berkata, “Bunda, kalo ngasih jangan dilempar.” Jleb kata-katanya menampar saya, saya sebagai orang dewasa yang mestinya dewasa dalam segala hal terutama memberikan contoh pada putri saya, malah diajarkan olehnya, malu rasanya saya hanya pintar berkata-kata namun miskin dalam memberi contoh yang benar, lain ceritanya, suatu ketika anak saya merengkek dan menangis karena minta dibelikan sebuah mainan, saya yang lelah karena sudah pergi seharian, berkata dengan nada yang agak tinggi, mungkin ditambah suara sekitar yang begitu bising, anak saya seperti mendengar saya berteriak kepadanya.

Dengan terus menangis tersedu, saya tanya perlahan sambil menatap matanya, “Kakak mau apa?” tanya saya tanpa mengalihkan pandangan, “Kakak, mau bunda kalo ngomong jangan teriak sama aku.” Lagi-lagi saya ditampar dengan ucapanya, rasanya hati ini terasa seperti teriris,berarti apa yang selama ini saya ajarkan dengan melakukan komunikasi produktif, sedikit banyak didengar oleh anak saya balita berusia 4 tahun kurang, dia mendengar, merekam, dan mengingatnya dengan baik. Ini merupakan satu pelajaran baru buat saya, bahwa saya harus menjadi contoh yang baik untuk putri saya, jika ingin dia menjadi seorang yang baik dimasa yang akan datang.

Cerita yang lainnya, anak saya sudah mulai mengikuti kelas PAUD didekat rumah, saya tidak pernah memaksanya, jika dia tidak ingin pergi ke sekolah, jadi ketika dia ngambek tidak mau kesekolah, saya hanya akan mendiamkannya. Namun suatu ketika, sejak mempraktekan komunikasi produktif, jika esok hari dia mulai sekolah, tiap malam sebelum tidur, saya selalu mengajaknya melakukan pillow talk, pembicaraan santai ditempat tidur, saya katakan, “Kakak, bunda senang kalau besok pagi, kakak bangun dengan senang hati, dan juga bunda senang kakak nanti malam, tidur dengan tenang.” Saya ucapkan kata itu berulang-ulang, agar dia mendengar dengan baik meskipun tidak focus. Alhamdulilah besok paginya, anak saya tanpa drama bangun pagi untuk sekolah. Dengan mudah dan mandi pagi tanpa tangisan. Saya tahu tiap pagi dia terkadang malas untuk memakai baju sendiri, jadi saya beri dia pilihan, “Kakak mau bunda bantu pakaikan, atau kalo bunda tidak bantu, kakak dicatat kebaikan disebelah kanan.” Dia menjawab, “Kakak mau dicatat kebaikan.” Saya tersenyum dengan puas, rasanya putri kecil saya, semakin dewasa, Terima kasih Ya RABB, saya akan menjadi titipan-MU dengan sepenuh hati. Aamiin YRA.

#hari10
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Photo by veriret . on Unsplash




No comments :

Post a Comment