Setiap anak, dilahirkan dengan keunikan tersendiri, setiap
milyar DNA yang terkandung dalam tubuhnya, menjadi tanda bahwa dia tidak akan
tertukar dengan orang lain satu sama lainnya. Begitu juga dengan anak saya,
kadang saya sebagai orang tua suka membandingkan dengan anak seumurnya,
meskipun saya tahu hal itu tidak baik, hanya saja sebagai suatu motivasi untuk
saya mendidik anak saya jauh lebih baik lagi.
Hari ini sudah hari ke-10 Komunikasi Produktif tugas dari
kelas Bunsay IIP yang sedang saya ikut, awalnya menjadi sebuah beban, karena
saya tidak pandai menulis, tidak punya bakat, dan juga tulisan saya tidak
menarik, tapi masalah yang sedang saya hadapi itu, ingin saya hadapi dengan
positif, menjadi sebuah tantangan yang ingin saya taklukan dengan sekuat
tenaga.
Beberapa hari sejak mempraktekan komunikasi produktif,
perilaku anak saya berubah, menjaid lebih mudah dimengerti, seperti halnya,
jika saya minta tolong sesuatu kepada anak saya, tolong diberikan dengan sopan
dan tidak dilempar, saya selalu katakan itu, dan anak saya seperti mulai
memahami perkataan saya, sehingga pada satu ketika, saat saya asal memberikan
barang yang dia minta, anak saya dengan bijaknya berkata, “Bunda, kalo ngasih
jangan dilempar.” Jleb kata-katanya menampar saya, saya sebagai orang dewasa
yang mestinya dewasa dalam segala hal terutama memberikan contoh pada putri
saya, malah diajarkan olehnya, malu rasanya saya hanya pintar berkata-kata
namun miskin dalam memberi contoh yang benar, lain ceritanya, suatu ketika anak
saya merengkek dan menangis karena minta dibelikan sebuah mainan, saya yang
lelah karena sudah pergi seharian, berkata dengan nada yang agak tinggi,
mungkin ditambah suara sekitar yang begitu bising, anak saya seperti mendengar
saya berteriak kepadanya.
Dengan terus menangis
tersedu, saya tanya perlahan sambil menatap matanya, “Kakak mau apa?” tanya
saya tanpa mengalihkan pandangan, “Kakak, mau bunda kalo ngomong jangan teriak
sama aku.” Lagi-lagi saya ditampar dengan ucapanya, rasanya hati ini terasa
seperti teriris,berarti apa yang selama ini saya ajarkan dengan melakukan
komunikasi produktif, sedikit banyak didengar oleh anak saya balita berusia 4
tahun kurang, dia mendengar, merekam, dan mengingatnya dengan baik. Ini merupakan
satu pelajaran baru buat saya, bahwa saya harus menjadi contoh yang baik untuk
putri saya, jika ingin dia menjadi seorang yang baik dimasa yang akan datang.
Cerita yang lainnya, anak saya sudah mulai mengikuti kelas PAUD
didekat rumah, saya tidak pernah memaksanya, jika dia tidak ingin pergi ke
sekolah, jadi ketika dia ngambek tidak mau kesekolah, saya hanya akan
mendiamkannya. Namun suatu ketika, sejak mempraktekan komunikasi produktif,
jika esok hari dia mulai sekolah, tiap malam sebelum tidur, saya selalu
mengajaknya melakukan pillow talk, pembicaraan santai ditempat tidur, saya
katakan, “Kakak, bunda senang kalau besok pagi, kakak bangun dengan senang
hati, dan juga bunda senang kakak nanti malam, tidur dengan tenang.” Saya ucapkan
kata itu berulang-ulang, agar dia mendengar dengan baik meskipun tidak focus. Alhamdulilah
besok paginya, anak saya tanpa drama bangun pagi untuk sekolah. Dengan mudah
dan mandi pagi tanpa tangisan. Saya tahu tiap pagi dia terkadang malas untuk
memakai baju sendiri, jadi saya beri dia pilihan, “Kakak mau bunda bantu
pakaikan, atau kalo bunda tidak bantu, kakak dicatat kebaikan disebelah kanan.”
Dia menjawab, “Kakak mau dicatat kebaikan.” Saya tersenyum dengan puas, rasanya
putri kecil saya, semakin dewasa, Terima kasih Ya RABB, saya akan menjadi
titipan-MU dengan sepenuh hati. Aamiin YRA.
#hari10
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

No comments :
Post a Comment